AREA 2007 - 2008

Agar Tempat tak Sia-sia

3,858 Views

Sekarang musim haji. Artinya sekitar lima juta orang dari seluruh dunia akan berkumpul di Arafah, salah satu persyaratan dalam menunaikan ibadah haji. Tenda-tenda yang bergunduk-gunduk akan dipadati manusia.

Di luar hajian, betapa kosong dan lengangnya tempat itu. Begitu pula jalan rayanya yang lebar-lebar. Sepi sekali seluas mata memandang. Itu kesaksian saya waktu ke sana di luar musim haji. Kebayang kalau ini di Jakarta atau kota-kota lain di Nusantara. Warga akan menggunakannya buat sirkuit kebut-kebutan.

Tapi, memang, suatu kawasan bangunan, entah itu Arafah di Arab Saudi, entah di mana pun juga suatu bangunan berada, selalu memiliki sisi “tampak sia-sia” ketika tak dipakai. Entah tak dipakai sampai penuh 24 jam sehari. Entah tak dipakai sampai penuh 12 bulan setahun.

Maka pernah ada ijtihad, usaha penyesuaian dogma agama melalui penalaran, bahwa hajian itu jangan dimusim-musimkan. Lakukanlah sepanjang tahun. Dengan begitu fasilitas yang sudah capek-capek dibangun dan berbiaya tinggi akan terpakai sepanjang tahun. Tapi wacana ijtihad sekitar lima tahunan lalu itu tenggelam entah ke mana.

Tak usah jauh-jauh ke Arafah. Kota ternyata juga sia-sia ketika malam hari. Seluruh aktivitas nyaris berlangsung siang hari. Malam sepi. Seolah-olah percuma para kuli bangunan, mandor sampai pemimpin proyek mandi matahari ketika dulu membangun gedung-gedung itu.

Seorang arsitek yang memimpin organisasi profesi itu di wilayah Jawa Barat pernah bilang ke saya, mestinya perkantoran, kawasan bisnis dan perumahan jangan dipisah-pisah dalam tata kota. Baurkan saja.

Alasannya, pada malam hari gedung-gedung tetap bisa dipakai buat jajanan. Untuk kasus kawasan kota Jakarta, pembelinya dengan begitu tak harus datang dari perumahan Permata Hijau, Simpruk, Cinere dan lain-lain. Gedung-gedung tetap menjalankan aktivitasnya, dan yang jajan bisa pula para warga yang tinggal di sekitarnya karena baurnya kawasan bisnis dan perumahan.

Kini kawasan bisnis dan perumahan masih jadi kelompok-kelompok tersendiri, namun sebagian warga yang kreatif telah mendahului para pemikir tata kota. Mereka membuat fasilitas kota tak jadi sia-sia. Sebut di antaranya dengan membuka Circle-K, McDonald, Amor, O La La, Satoo, Sperta, Warteg Warmo dan lain-lain.

Saya tidak tahu apakah mereka meniru semangat orang-orang Padang yang sebagian membuka warungnya 24 Jam. Atau mereka meniru spirit dari Unit Gawat Darurat rumah sakit yang juga buka 24 jam.

Atau mungkin mereka tak ingin mengulangi kekeliruan Sultan Agung waktu menyerbu Batavia dan membangun pasar-pasar yang cuma buka pada hari dan “pasaran” tertentu. Lahirlah misalnya Pasar Minggu, Pasar Senen, Pasar Rebo dan lain-lain. Di luar hari dan “pasaran” itu fasilitas pasar mubazir tak terpakai.

Yang mau saya bilang, warga seringkali lebih cepat bertindak dan lebih kreatif ketimbang para pemikir, termasuk pemikir tata kota.

Dan itu juga berlaku untuk berbagai hal.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA 42, tanggal 15 November 2008)