AREA 2011 - 2012

AREA 116 Kesurupan Resolusi Dinding Kamar

1,614 Views

TejomusikSaya lihat di dinding ada tulisan tentang target-target yang harus dicapai dalam hidup. Itu saya baca waktu numpang tidur di kamar anak saya di Dago, Bandung Utara. Seingat saya ada sepuluh butir dengan aksara yang berwarna-warni. Letaknya tepat di atas meja belajar.

Beberapa tahun sebelumnya saya pernah ndak sengaja nonton teve. Acaranya seputar psikologi. Dibilang oleh narasumbernya bahwa sesuatu yang visual dapat membantu membangkitkan energi. Tulisan tentang entah semboyan entah cita-cita yang saban hari tampak mata akan seperti menyihir pembacanya.

Apakah tulisan mirip poster di dinding itu salah satu wujudnya?

Ramai-ramai soal resolusi di tahun 2012 tak langsung mengingatkan saya pada tulisan di dinding itu. Saya malah langsung teringat pada beberapa Resolusi PBB. Seingat saya buaaanyak sekali resolusi organisasi persatuan bangsa-bangsa itu yang toh mangkrak, tidak terlaksana.     Salah satu contohnya adalah resolusi tentang masalah Kashmir. Tahun 1948 India disuruh PBB untuk ngasih hak pilih ke rakyat Kashmir apa mereka akan bergabung dengan India atau Pakistan. Ndak direken tuh sama India. Resolusi diulangi lagi tahun 1950, lalu tahun1951, lalu lagi di tahun 1957. India menter-menter aja tuh.

Belum lagi contoh lain-lainnya termasuk resolusi PBB soal Palestina dan Israel.

Jika resolusi suatu lembaga formal yang didukung oleh banyak negara saja seabreg yang akhirnya omdo, apalagi resolusi yang cuma ditulis oleh seorang pribadi.

Bisa positif kalau mikirnya dibalik. Resolusi pribadi justru akan lebih kuat dan berdampak. Orang tidak mungkin bohong pada diri sendiri. Kalau tak yakin bisa menikah, tak mungkin seseorang akan bertekad untuk menikah.

Lagi pula resolusi suatu lembaga yang tiap saat disorot oleh pers, bisa saja suatu resolusi untuk citra. Resolusi untuk diri sendiri tak dibikin untuk image. Andai saya tak kebetulan masuk kamar anak saya itu, nggak bakalan saya tahu target-target pribadi anak saya.

Artinya tulisan di dinding itu bisa jadi lebih jujur ketimbang resolusi PBB. Arti selanjutnya, lebih mungkin untuk dilaksanakan oleh yang bersangkutan.

Tapi ada juga pendapat lain. Tekad dan perubahan hendaknya langsung wujudkan dalam perbuatan. Sebagaimana ilmu pengetahuan yang diajarkan leluhur melalui tembang macapat Pocung, ngelmu kuwi kelakone kanthi laku: Ilmu itu (kata-kata) mestinya langsung berwujud tindakan.

“Tidak usah diresolusi-resolusikan. Begitu juga tahun 2012 ini mau ngapain, mau tersenyum lebih sering ke banyak orang, langsung saja lakukan. Ndak usah diomong-omongin, ” barangkali begitu kata Sampeyan.

Ada benarnya juga. Tapi bagaimana dengan pendapat lama di dunia bahwa “pada awalnya adalah kata”. Bahkan bagi yang percaya, Tuhan menciptakan alam semesta dengan kata-kata yaitu”Jadi”, maka terjadilah.

Mungkin karena itu Bung Karno ambil jalan tengah. Bagi Proklamator itu bukan “sedikit bicara banyak bekerja” tapi “banyak bicara banyak bekerja” ini.

Menulis resolusi termasuk dalam banyak bicara itu.

Jalan tengah yang saya usulkan, bagaimana kalau berkata-kata atau menulis dianggap perbuatan juga seperti pernah dibilang ahli bahasa Denmark Otto Jespersen? Dengan kata lain, satunya kata dan perbuatan?

Kita kesurupan oleh kata-kata yang kita bikin sendiri. Bahasa kerennya mungkin trance-resolution melalui self hypnosis.

Jika dikaitkan dengan gambar, resolusi yang membuat kesurupan itu mungkin resolusi minimal 300 dpi.