AREA 2011 - 2012

AREA 125 Polusi Pikiran Lebih Anu di Kota Itu

3,952 Views

TejomusikPetani tembakau bete. Sebagian ruas jalur Pantura dan Jawa Tengah dulu pernah mereka bikin buntu. Jihaaa…Hari-hari lalu ruas itu mereka verboden-kan lagi. Mungkin mereka sewot dengar selentingan kuat bahwa kampanye antirokok ujung-ujungnya didanai asing. Tujuan asing mematikan industri rokok kretek dalam negeri.

Saya nggak terlalu rempong dengan anti maupun pro rokok. Yang penting kedua pihak tak saling usik. Yang tak merokok nggak usah pakai teriak-teriak antirokok. Lha wong pajak dari rokok negeri ini lebih besar ketimbang pajak dari tambang dan energi.

Sebaliknya kaum perokok ndak usah anti pada mereka yang tidak merokok dan suka ngemil. Pendukung tim Itali dan pendukung tim Spanyol juga tetap bisa bergaul menyelenggarakan hidup kok. Masa golongan pro dan anti rokok tak bisa side by side.

Yang jadi urusan saya, kenapa kita cuma sibuk pada ancaman asap rokok? Bagaimana kalau seluruh warga Jakarta kelak sudah tidak merokok, lebih sehatkah mereka?

Tetap akan ada masalah pernapasan dan kesehatan: dampak polusi udara terutama dari sektor tranportasi.

Dulu ada survei menyebut Jakarta duduk di peringkat kedua untuk kota yang udaranya paling tercemar. Pertama Denpasar. Kini yang paling tercemar Medan, Surabaya, Bandung, baru Jakarta.

Ah, nomor berapa pun, Jakarta selalu di kisaran papan atas.

Kampanye bersih udara ini yang mestinya dilansir lebih besar atau minimal sama gencar dengan kampanye antirokok. CMIIW … ukuran PM10 yakni porsi diameter partikel sebesar atau lebih kecil ketimbang 10 mikrometer yang bergentayangan di udara tak pernah menuding-nuding asap rokok sebagai penyumbang polusi terbesar. Donatur terbesar adalah emisi transportasi.

Bukan kemelut asap rokok…

Oh ya, saya tidak tahu bagaimana tingkat pencemaran kawasan Puncak sekarang, mengingat sayur-mayur yang masuk Jakarta kebanyakan berasal dari Cipanas dan Cianjur.

Saya juga tidak tahu kayak apa tingkat pencemaran laut-laut di Nusantara. Inga’ inga’ … separo lebih dari 250an ribu ton pertahun kebutuhan ikan warga Jakarta disuplai dari dalam negeri termasuk, tentu, dari lumbung ikan nasional, Maluku.

Tapi, jika pun sayur-mayur dan ikan-ikan yang masuk Jakarta juga tercemar, saya kira pencemaran udara tetap menjadi hal utama di kota itu selain senyum Agnes Monica dan Syahrini.

Bagaimana tidak.  Dari beberapa orang saya pernah menaksir-naksir rata-rata orang Jakarta menghabiskan waktunya di jalan 4 jam per hari. Durasi tersebut bisa mengandaikan berapa kadar polutan yang keluar dari knalpot tunggangannya.

Itulah, transportasi sebagai pencemar udara, yang disumbangkan oleh warga Jakarta dari berbagai sektor pekerjaan baik sektor sekunder terutama konstruksi maupun sektor tersier seperti hotel dan restoran.

Lantas, dalam keadaan stres di jalanan seperti itu bagaimana konsentrasi mereka tidak melulu pada memikirkan diri sendiri?

Padahal, saya sependapat dengan wanti-wanti para kiyai saya dahulu tentang kenapa Nabi Muhammad cuma pernah sakit sekali dalam hidupnya: Karena beliau tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.

Sementara dalam udara tercemar, penuh polutan, memikirkan diri sendiri tak tampak salah.