AREA 2009 - 2010

AREA 87 Cinta Datang, Guru pun Datang

3,431 Views

TejomusikBanyak yang bilang datangnya cinta tak terduga. Kok rasanya cinta tak satu-satunya yang kelakuannya kayak gitu. Kelakuan guru pun sama. Datangnya juga tak bisa diterka. Dan seperti halnya “Tuhan”, kadang guru datang dengan meminjam sosok siapa pun dari presiden sampai gembel.

Ketika suatu siang saya sedang lesu di bilangan Bintaro, bukan motivator yang memberi saya semangat. Tapi tukang parkir di samping Bintaro Plasa. Bayangkan, bapak-bapak sekitar 45 tahunan itu selalu bersiul. Siulannya dari lagu-lagu Barat sampai “Jalur Pantura”.

Di sela-sela aba-aba parkirannya, bapak-bapak itu masih menyisip-nyisipkan siulannya. Setelah mobil terpakir, si empunya mobil turun, bapak-bapak itu melanjutkan siulannya sembari nangkring di atas batu. Senyum-senyum. Melambai ke teman-temannya yang lewat.     Sumringah. Semangat. Energik.

Tiga hal yang datang dari “Pak Guru” siang itu lantas menggunggah saya dengan sedikit malu-malu. Ya, malu-malu, kok saya sampai kalah semangat dibanding orang lain ya?

Dan pengalaman ini pasti bukang satu-satunya. Pasti banyak di antara pembaca area yang tiba-tiba tersentak oleh kata-kata OB, tukang koran, ahli sedot WC dan lain-lain. Bahkan seorang menteri yang kerap diolok-olok goblok, bisa saja suatu hari kata-katanya menyentak kita, mengajar kita, membuat kita untuk melihat dunia secara berbeda…

O ya…baru saja  Gus Dur dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

Saya tak pernah berharap “Bapak Ceplas-ceplos Nasional” asal Jombang itu diberi penghormatan formal sedemikan. Dihaturi gelar pahlawan atau tidak, Gus Dur sudah dan tetap sesuatu.

Pandangan saya tentang Pahlawan berubah total berkat guru yang tak saya sangka-sangka yakni Mas Ucik Supra. Tahun 90-an saya menemuinya di bilangan Pasar Baru, Jakarta. Tak sengaja kami ngobrol tentang pahlawan.

Ternyata, bagi Mas Ucik, ia merasa baru benar-benar menjadi pahlawan kalau lama tak pulang karena syuting, pulang-pulang terus anak-anaknya mengelu-elukannya di pintu pagar…”Bapak pulaaaang…Bapak pulaaaaang….”

Gila, sejak SD sampai kuliah, saya diajar tentang Diponegoro, Antasari, Imam Bonjol, Pattimura…Pandangan tentang pahlawan sudah terbangun dalam diri saya. Ternyata pandangan yang udah menulangsungsum itu berubah total “cuma” karena perbincangan tak sampai satu jam dengan Mas Ucik.

Saya kira Bang Idin, yang menjadi pengayom lingkungan sungai Pesanggrahan di kawasan Jakarta juga tidak meniatkan diri menjadi pahlawan. Dalam takaran tertentu ia mengingatkan saya pada Syamsudin, tukang becak di Banjarmasin maupun bule Gavin Birch di pantai Senggigi Lombok.

Syamsudin sejak 2003 kini telah menanam sekitar 3.200 pohon ketapang. Dan entah sudah berapa ton sampah dipungut si “Turis Gila” (sesuai penamaan masyarakat setempat) sejak 24 tahun lalu.

Bang Idin hanya bermula dari keinginannya memandang kampung tempat anak-keluarganya tinggal, menjadi kampung yang asri. Mula-mula ia punguti sampah. Lalu makin tak terbendung keinginannya mewujudkan kenangan masa kecilnya: Alam yang indah di sekitar keluarganya, masyarakatnya…

Dan mungkin sedikit banyak, meski tak sampai kualitas Bang Idin sampai Bang Ali Sadikin… kita adalah pahlawan-pahlawan di Jakarta dalam lingkup sekecil apapun…