Blog

Drama-Wayang Semar Mesem 17 November (5)

6,771 Views

ST4DC2Horeee…Dari Pameran 9 Lukisan Hitam-Putih Semar Mesem 1-5 November yang dibuka Pak Wiranto di Jakarta kemarin, saya, Presiden Yaiyo, dapat duit lumayan. Gak terlalu banyak. Tapi lumayan. Pementasan Drama-Wayang Kontemporer Semar Mesem 17 November sore dan malam di Gedung Kesenian Jakarta, yang semula emang akan kami jadiin ada atau gak ada duit, sekarang tambah kami jadiin lagi. Dateng lho. Kapasitas gedung itu cuma 400 orang. Siapa duluan beli tiket, dia yang bisa masuk.

Mau anak menteri, mau anak jenderal, misalnya dateng pas tanggal 17 November itu, bawa duit, tapi kehabisan tiket karena udah dipesan orang sebelumnya, ya nggak boleh masuk. Kecuali anaknya Pak Menteri Perhubungan Jusman SD. Bukan karena saya takut. Tapi karena Bang Jusman mau nulis kata pengantar buat pertunjukan Semar Mesem. Dan gak minta honor. Saya juga nggak bakal bisa kasih honor. Gila apa? Berapa honor tulisan seorang menteri. Makanya kalau nanti saya sibuk nyariin kursi buat keluarganya yang siapa tahu mau capek-capek dateng, saya jangan diketawain ya. Please. Konteksnya bukan takut. Konteksnya tahu diri.

Saya juga sudah dapat pemain berambut panjang, aktris Heppi Salma yang bersedia dibayar berapapun bahkan apes-apesnya nggak dibayar juga gak masalah. “Asal”, katanya, “Mas Tejo nglatihnya bener-bener sehingga aku dapat pengalaman”. Wah, thx Heppi. Be Hepi so I am Hepi too. O ya, ada juga beberapa pemain mahasiswi di Jakarta, yang mendaftar dan lolos. Sebagian dari Dr Mustopo Beragama. Mereka rambutnya nggak terlalu panjang. Ada yang sepundak. Tapi mereka cerdas. Katanya, “Lho mau berapapun panjang rambutnya kan istilahnya tetap panjang. Bukan pendek. Tentara yang cepak aja kalau mau diukur centimeter rambutnya kan disebut “panjang rambut”-nya bukan “pendek rambut”-nya berapa centi”.

Ada yang SMS saya, nanya, kenapa kok suka Semar dan mau mempertunjukkan Semar. Ya karena Semar yang ngajarin saya bahwa dalam hidup itu, hendaknya Perasaan yang di depan. Bukan Pikiran. Kalau kau dapat proyek yang secara kalkulasi pikiran untung, jangan langsung diambil. Bisa aja itu sebenarnya merugikan kamu di belakang hari. Sebaliknya kalau dapat tawaran proyek yang cuma break event point atau malah rugi secara itung-itungan atau pikiran, jangan langsung di tolak. Tanya dulu ma perasaanmu. Tak jarang proyek-proyek thank you macam itu akan membawa banyak manfaat di belakang hari yang tak harus berupa manfaat duit.

Menurut Semar, Perasaan mesti ada di garda depan setiap langkah kita. Yang mendorong bukan pikiran, kehendak atau karep. Perasaan yang didorong oleh pikiran maupun kehendak, kadang masih mengecoh juga. Menurut Semar, hendaknya perasaan itu didorong oleh Bakti atau Labet. Unsur dari Bakti atau Labet itu ada 3 yaitu, Tadah, Pradah, Ora Wegah. Tadah itu berarti kita tak pernah meminta apapun. Doa kita tak lain kecuali “TERIMA KASIH”. Doa kita cuma mensyukuri apapun, aaapaaapuuun yang udah kita capai. Pradah, berarti ikhlas sharing apapun yang jadi potensi kita buat sesama. Ikhlas di sini jangan terlalu melankolis mengartikannya. Artinya di dalam bisnis, gaji atau honor atau nilai jual tetap penting buat jerih payah kita, kalau duit emang kita perlukan untuk standar hidup. Di luar bisnis, ikhlas juga bisa berarti pemberian tanpa pamrih.

Ora Wegah, artinya tidak pilih-pilih entah itu kerjaan besar atau kerjaan kecil, sekali kita komit menjalaninya ya…jalani dengan total. Kalau kita sudah bisa menjalani Labet, dengan tiga unsurnya yaitu Tadah, Pradah, Ora Wegah, kata Semar, kita bisa Nunggang Rasa Ngadep Urip alias Mengendarai Perasaan Mengarungi Hidup. Perasaan tidak memperdaya kita, tapi tetap menjadi tools kita buat menjalani hidup. Dan kalau kita sudah bisa Nunggang Rasa Ngadep Urip, kata Semar, kita akan Ora Nduwe Ning Nek Butuh Ono, alias tidak berlebihan tapi kalau pas lagi butuh ada saja jalan keluar bagi kita buat mendapatkan kebutuhan itu.

O ya, sampai lupa, soal pemesanan tiket begini. Kalau sampeyan tinggal di Bandung, hubungi Gandoz di waskitomailbox@gmail.com, Basuki di Basuki@itb.ac.id, Retno di enootoo@yahoo.com, Antok di anto83id@yahoo.com, Putri Rika Sumedang Guelis di rika@pointgraph.com. Sumedang Geulis itu nama tambahan dari saya. Karena, kabarnya, orangnya geulis.

Jakarta agak ribet karena luas banget. Tapi gini aja, kalau sampeyan tinggal di Pondok Indah dan sekitarnya, kontak Importmusik, Plasa 5, Pondok Indah, Blok A9 Jakarta Selatan 12140, Telp. 7396755, fax 7396749, mudah-mudahan yang terima telp pas yang namanya Ria. Wah, suaranya enak banget. Ueeeenak banget. Renyah-renyah gimanaaa gitu. Pintar Anang, bos Importmusik, nyari karyawati.

Kalau Sampeyan ada di kawasan Bintaro dan BSD, bisa telp Angel (081807006600) atau Sumiati (0811183974) atau Randu (081314433363) atau Kennya (08569988494). Sampeyan di sekitar Tanjung Duren, Taman Anggrek, kontak Kiki (085217119793) atau Frans (081329506999). Sampeyan sekitar Tebet, Mangarai, kontak Dian Sastro (0811807971) atau Cecile (0816531062).

Atau langsung kontak ke
Gedung Kesenian Jakarta (021) 3808283, 3441892 atau
Ibu Lia Nugrahati 0811901380, Bp. Adi 08170177276, Bp. Pongki 08179101737, Ibu Mia 0816702673 dan Sarah 081319773484.

Harga tiket rata-rata Rp 75 ribu. Semar bilang Nunggang Rasa Ngadep Urip, saya bilang Nunggang Tiket Nonton Semar Mesem. Drama musik komedi berbahasa Indonesia, dengan musik campuran Jazz-Gamelan, yang digarap pemain bas Bintang Indrianto dan dedengkot pengrawit asal Solo, Dedek Wahyudi.

Saya selaku Presiden Yaiyo, akan mengusahan sampeyan tetap bisa masuk gedung pertunjukan walau tak bayar tiket, asal bawa surat keterangan miskin dari RT/RW setempat. Saya janji. CU.