Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 114 Dari Mulut ke Mulut, Harimau ke Buaya

6,599 Views

Episode114 “Ceritakan kepadaku tentang harimau dan buaya,” rajuk Dewi Undanawati di Kembang Sore hampir lingsir wengi. Suaminya, ponokawan Petruk, garuk-garuk kepala. Njanur gunung dengaren istrinya manja. Petruk seneng.  Sayangnya soal kisah-kisah kayak gitu Petruk sudah banyak ndak ingat. Dia sudah lupa itu semua baik sebelum menteri pendidikan punya satu wakil menteri apalagi sesudah punya dua wakil menteri.

Tentang harimau, Petruk cuma eling penarik kereta perang Indrajit bukan empat ekor kuda. Mesin kendaraan anak Indrajid itu adalah empat ekor harimau. Keempat-empatnya sakti pula. Itu yang membuat Hanuman pernah keteteran melawan Indrajit.

Tentang harimau, yang didengarnya dari kakaknya, Gareng, Petruk cuma ingat bahwa harimau alias “kiyaine” lemah-lembut ketika berjalan. Terutama kalau si raja hutan itu sudah beberapa hari puasa. Makanya mbak-mbak penyanyi keroncong sering nyanyi: putri solo kalau berjalan lemah gemulai bagai harimau lapar.

Selebihnya, tentang harimau, Petruk alias Kantong Bolong tak ingat apa-apa lagi.

“Hayo, ceritakan kepadaku tentang harimau dan buaya,” Dewi Undanawati makin merajuk, semakin manja …

***

 

Punya istri manja mungkin repot. Punya istri yang sekali-sekali manja, seperti perempuan di Kembang Sore itu, mungkin repot-repot enak. Cuma waktunya saja nggak pas. Pas Dewi Undanawati nggelendot-ngglendot kemayu minta didongengi, Petruk  sedang mikir cara mencari ongkos bus ke Yogyakarta. Ia pengin lihat pernikahan putri bungsu HB X.

Mantenan kraton penuh uba rampe dan kesenian agung dan enak dipanang. Petruk inget meriahnya pernikahan bosnya, Arjuna, dan Dewi Subadra. Ada gamelan Lokananta. Wuih ini gamelan dari kahyangan yang bunyi sendiri tanpa ditalu. Ada arak-arakan pasangan 140 perempuan kembar…

“Wah pasti dahsyat kalau aku bisa nonton pernikahan kraton Yogya,” Petruk berandai-andai.

“Sudahlah, Kang, ndak usah kelayapan ke Yogyakarta. Kamu kan bisa nonton siaran langsung dari teve” ujar Bagong, adiknya, sore kemarin.

Gareng mendukung Bagong. Menurut kakak Petruk itu, sambil menunggu hasil kerja menteri baru perhubungan, sebaiknya masyarakat jangan kemana-mana. “Biasanya kerja menteri baru tercium hasilnya setelah tiga sampai enam bulan,” tuturnya.

“Nanti kalau angkutan umum sudah bagus, jalan raya sudah mulus,” baru silakan kamu pergi-pergi anjangsana sana-sini,” Bagong menambahkan.

“Nanti kalau jalan raya sudah ndak jeglong-jeglong, Gong?” Petruk mengernyitkan kening, “Kan menterinya ndak baru?”

“Itu tandanya Pak Menteri lama berprestasi, Truk.”

“Kalau berprestasi, kenapa kok aspalnya bolong-bolong, Gong?”

Bagong bingung. Gareng menengahi, “Sudah. Sudah. Soal reshuffle kabinet itu hak prerogatif Pak Presiden. Lha wong menteri kelautan yang katanya berprestasi malah dicopot pada detik-detik terakhir kok …hayo…Ada juga menteri yang nggak berprestasi malah digeser ke kementerian yang lebih basah…Hayo…”

“Halah, kalian semua sok tahu. Wis, wis, urusanku sekarang bagaimana nyari ongkos bus ke Yogya. Teve nasional tidak akan menyiarkan nikah kraton secara full…”

“Ayo Kang, ceritakan padaku tentang harimau dan buaya…” Dewi Undanawati kembali mengguncang-guncang Petruk. Tersentaklah sang suami dari lamunan.

Petruk sudah akan bercerita. Di pembaringan itu Dewi Undanawati telah penuh harap memandang mata Petruk. Namun Petruk kembali garuk-garuk kepala.

Tentang buaya, tak banyak yang bisa diingat Petruk baik semasih Khadaffi hidup apalagi setelah pemimpin Libya itu tewas dikuyo-kuyo warga. Paling ia cuma terkenang pada empat puluh buaya putih yang bertempur melawan Jaka Tingkir alias Mas Karebet. Akhirnya calon pemimpin Pajang itu unggul. Lalu seluruh buaya putih menyangga dan mendorong perahu gethek Mas Karebet menuju puncak kekuasaan.

Tentang buaya, sama halnya tentang harimau yang kini lenyap dari Tanah Jawa, tak banyak lagi yang nempel di memori Petruk. Paling Petruk hanya terkenang bahwa dalam misi menyerbu Alengka, sesungguhnya Hanuman pernah dibantu oleh kera berwajah buaya. Namanya Kapi Sraba.

Tak banyak yang tahu tentang Kapi Sraba. Umumnya tentang kera-kera di sekitar Hanuman, orang hanya tahu Anggodo dan Anila. Mengetahui hal-hal yang orang lain tidak tahu, bukankah itu membanggakan? Tapi kalau pengetahuan itu cuma secuil, bagaimana caranya agar cerita Petruk bisa lengkap dan menarik istri yang sedang manja-manjanya?

Waktu terus beranjak hingga menjelang fajar. Dewi Undanawati tertidur tanpa dongeng seperti umumnya anak-anak Indonesia saat ini.

***

Saat bangun tidur, Dewi Undanawati kaget. Suaminya sudah tidak ada di rumah. Tapi Gareng dan Bagong tahu, pasti Petruk sudah berangkat ke Kota Gudeg.

Ternyata Petruk benar. Tak ada televisi nasional yang menyiarkan utuh pernikahan Kraton Yogya. Beda dengan saat kerajaan Inggris belum lama ini melangsungkan pernikahan. Sudah seharian Gareng dan Bagong nongkrong di depan televisi, tapi tak ada siaran live dan utuh seperti harapan keduanya.

“Kerajaan luar dibanggakan. Kerajaan sendiri tidak. Nasionalisme kita sudah rontok,” komentar Gareng dengan agak sok tahu seperti biasanya.

“Tapi, Gong, masyarakat kita masih lebih oke ketimbang Libya. Orang-orang Afrika itu joget-joget, pesta pora nyambut menangnya nglawan Khadaffi. Mereka ndak ngeh, sehabis keluar dari mulut harimau akan segera masuk mulut buaya, yaitu mulut Amerika dan rombongannya…”

Bagong menanggapi, “Berarti kita lebih pintar ya orang Libya, Kang Gareng. Kita ndak hepi-hepi menyambut pindah dari kabinet lama ke kabinet baru. Kita sadar sebenarnya kita cuma transmigrasi saja dari mulut harimau ke mulut buaya dari pawang yang sama …”

“Oalah Brotheeeer, Brother… Kalau menurut saya bukan soal sadar akan mulut bajul opo macan. Perhatian masyarakat tidak ke pergantian kabinet, tapi ke Royal Wedding di Ngayogyokarto Hadiningrat meski teve nasional tidak menyiarkan full..” celetuk Dewi Undanawati yang baru kemarin sore kursus Bahasa Inggris.