Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 139 Awas Nambi di Bang Bang Wetan

6,650 Views

Episode139AGAR ndak demo terus, Prabu Anom Gatutkoco kini latihan bola. Ia sudah mahir menggocek bola kiri-kanan, mengecoh, bahkan menyundulnya. Gooollll…

Penonton sedua-kali Stadion Tambaksari itu bersorak-sorai. Keplok-keplok. Lunjak-lunjak seperti tabuh gambang.

Yo, ndak aneh, Dik.

Lha wong pelatihnya juga tak tanggung-tanggung. Lionel Messi, Rek. Itu lho yang katanya dari Barcelona atau apa gitu, didatangkan khusus ke Pringgondani, kerajaan Gatutkaca. Percaya ndak, sebenarnya kemacetan beberapa ruas jalan di Jawa Timur belakangan ini termasuk rentetan ruas Pajarakan, ya karena ada kedatangan Lionel Messi yang suka cangkruk makan rawon di Nguling.

Jan-jane yang mau didatangkan sih David Beckham, lebih punya pengalaman melatih ketimbang Messi. Tapi Pakde Gatutkaca, Prabu Puntadewa, tampak kurang berkenan. Gara-garare, pas Beckham dulu lagi di puncak karier, hampir seluruh perempuan dunia kalau berolah-asmara mbarek bojone selalu kepikiran Beckham.

Puntadewa, raja Amarta yang membawahi Pringgondani, ndak mau trauma masa-masa tahun 2005an itu bangkit kembali.

Wong dulu itu istri Petruk, Dewi Undanawati, ketika nglakoni ulah kridaning priyo-wanodya dengan Petruk juga keceplosan, ”Oooh God… Ooooh Yes… Ooooh Beckam…”

Petruk ngenes banget, sampai akhirnya ia panas dan punya istri simpanan yang sekampung dengan istrinya, yaitu kampung Kembang Sore. Perempuan muda itu mantan istri nelayan Indonesia yang sekarang sudah pada bangkrut dan cuma tinggal 2 juta nelayan. Akhirnya hubungan gelap ini terbongkar. Kisah godong waru itu ditulis menjadi buku berjudul ”Petruk dan Istri Simpanan” dijadikan buku wajib pelajaran di sekolah-sekolah dasar.

”Pak, istri simpanan itu apa maksudnya?” tanya anak Petruk yang masih SD dan sedang mengerjakan PR. Petruk alias Kantong Bolong yang sudah rujuk dengan Dewi Undanawati malam itu tak bisa menjawab. Ia cuma sawangsawangan dengan istrinya.

***

Mangkane… Prabu Puntadewa tak ingin rumah tangga Petruk-Undanawati terusik kembali dengan kehadiran Beckham. Walau pemain bola kelahiran London ini akan melatih di Pringgondani, tak mustahil ia bakal sering mampir-mampir pula ke Amarta dan bertandang ke kampung Kembang Sore.

Soal terbitan buku ”Petruk dan Istri Simpanan” yang kini menjadi bacaan anak-anak SD, bagi Puntadewa, biarlah itu menjadi suatu kasus dalam ranah hukum. Penulis dan penerbitnya mungkin bisa dituntut. Tapi, persoalannya, hakim-hakim di Amarta sudah mengancam bakal mogok kalau tuntutan naik gajinya tidak terpenuhi.

”Ah, sudahlah, Mas,” rajuk Dewi Drupadi, istri Puntadewa. ”Soal istri simpanan yang sekarang jadi bacaan siswa SD itu diurus nanti saja. Yang penting sekarang jangan datangkan Beckham. Cari saja penggantinya. Yang badannya tidak terlalu tinggi. Yang perawakannya hampir setinggi rata-rata orang Tanah Jowo, sehingga gerakannya mudah ditirukan oleh orang-orang kita…”

Dengan sedikit rasa cemburu, Prabu Puntadewa tahu yang dimaksud istrinya pastilah pemain setinggi 170-an cm dari Argentina itu. Ia tahu bahwa istrinya sangat menyukai Messi. ”Jadi, siapa pengganti Beckham?” tanya Puntadewa kura-kura dalam perahu.

”Ah, Mas sendiri pasti tahu apa yang terbaik buat bangsa dan negara…” Ibu negara Amarta itu senyum-senyum agak yok opoooo gitu…

”Bintang dari negaranya Maradona maksudmu?” tanya Puntadewa masih mancing-mancing sambil wajahnya agak memerah.

”Ah, Mas, hmmm… Maradona, Madonna… suka-suka Mas saja. Tapi aku suka negeri itu. Nyanyian ibu negaranya, Eva Peron, diperankan oleh Madonna: Dont Cry for Me Argentina… Nyanyian yang sangat menyentuh di negeri yang sudah di ambang kehancuran…”

”Ya berarti Messi…,” tandas Puntadewa sambil menyembunyikan rasa geram dan cemburunya.

Itulah sejarah terpilihnya Messi melatih Gatutkaca.

***

Sehabis rembukan itu Puntadewa memanggil Petruk dan para ponokawan lainnya termasuk hulubalang Amarta dalam rapat tertutup. Jarang-jarang Puntadewa curhat. Ya baru kali itu orang nomor satu di Amarta itu berkeluh kesah tentang rencana kedatangan Messi.

Ternyata keluh kesah itu bocor ke media massa:

”Sodara-sodara… Coba, kurang apa pengorbanan saya sebagai raja. Saya tahu istri saya Drupadi tidak suka David Beckham. Tapi dia sangat mengidolakan Messi yang lahir di Rosario itu. Kalau Beckham yang datang, saya aman. Istri saya tidak akan kebayangbayang Beckham pas gituan. Tapi kalau saya datangkan Beckham, remuk… remuk… rumah tangga Petruk dan seluruh warga Amarta akan kacau balau. Sekarang saya sudah berkorban. Tapi apa balasan kalian… Koalisi pecah. Ancaman pemberontakan dari mana-mana. Iya kan?”

Wah, ramai. Di media massa, kutipan itu malah lebih ramai lagi karena lengkap dengan pisuhan-pisuhan ala Jawa Timuran. Pemeriksaan air seni para Kepala Lapas yang dituduh menyalahgunakan narkoba sempat terhenti karena pidato yang bocor.

”Ternyata aslinya Prabu Puntadewa itu kasar juga ya?” ujar salah seorang penguji narkoba para kepala lapas. Geng motor juga sempat terhenti melakukan kegaduhan ketika pertama kali mendengar bocoran itu. Di tengah kepanikan itu ponokawan Gareng punya akal. Ia ingin segera memulangkan Messi agar Prabu Puntadewa tenang. Dibujuknya Prabu Anom Gatutkaca agar tak lagi mencintai bola, tetapi tenis. Rayuan Gareng mandi.

Pers pun tak menuduh kepulangan Messi lantaran Prabu Puntadewa cemburu. Koran-koran dan televisi kompak memberitakan bahwa Gatutkaca tiba-tiba bosan bola dan menyukai tenis. Petenis perempuan asal Jerman Steffi Graf diundang sebagai pelatih.

Kok ternyata Steffi Graf tak kunjung tampak batang hidungnya yang mbetet itu?

Usut punya usut, ia salah masuk alamat dan waktu. Ia masuk ke Lumajang dan di abad ke-13. Ia menyangka Nambi yang dituduh akan memberontak pada Raja Kertarejasa di Majapahit itu adalah Gatutkaca. Ia menyangka bahwa benteng di Pajarakan yang dibangun Nambi adalah dinding lapangan tenis ala Nusantara.