Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 149 Bratalaras for President ….

7,298 Views

STcartoon1Sukses itu biasa. Tapi hidup sukses di negara gagal? Nah, itu baru asyik.

Maka dengan wangsit dari rekan-rekannya pemain Srimulat di Jakarta, ponokawan Gareng kini ikut-ikutan membuka kos-kosan di Surabaya. Tepatnya nduk kisaran Stasiun Gubeng. Ini dekat Kampus Universitas Airlangga. Kamarnya tak sebanyak milik Pak Tarzan, pelawak gede duwur asal Kepanjen, Malang. Gareng cuma nduwe antara tujuh sampai sembilan pintu. Tapi semuanya spesial lho. Cuma khusus mahasiswi.

Dewi Sariwati, istri Gareng, awalnya ndak sreg. “Pasti Mbakyu sudah menerawang udang di balik batumu, Kang Gareng,” kata Petruk. “Apalagi kan Mbakyu Sariwati sering pergi-pergi. Ke Solo. Blusukan kulakan daster nduk Pasar Klewer. Dia pasti, yaaah…namanya perempuan…jogo-jogo …hehehe…”

Syukur akhirnya Gareng bisa bikin Dewi Sariwati haqqul yakin bahwa maksudnya tulus. Membuka kos-kosan untuk lanangan biasanya jorok. Putung rokok nduk mana-mana. Ndak bisa diarep-arep ikut ngopeni tanaman di pot dan halaman.

Gareng segera menempel woro-woro kos-kosan. Di mana-mana. Tentu ndak ketinggalan di kedai milik Bagong dan Petruk.

Malam Jumat sejak semingguan woro-woro dipasang, datanglah perempuan muda. Setelah perempuan berambut panjang itu diajaknya melihat-lihat kamar di belakang rumah, Gareng mewawancarainya sambil meminta KTP.

“Nama saya Dewi Larasati, Om, “ kata perempuan itu lembut sambil menyibakkan rambutnya di kening.

“Kok Om? Mas…”

“Hehe. Iya. Maaf. Nama saya Dewi Larasati, Kang Mas..”

Ow ow ow….Istri Gareng terus mondar-mandir sambil berdehem-dehem. Gareng seolah tak dengar kode-kode cemburu.

“Hmmm….Dewi Larasati, ya,” batin Gareng. Berarti kamu putri Raja Kumbina, Prabu Bismaka. Putrinya dengan Ken Yusida alias Ken Sagupi. Tapi Sagupi yang biduanita itu cuma pacar gelap. Pas hamil kamu, Sagupi dinikahkan oleh Prabu Bismaka dengan abdi dalem bernama Antagopa. Imbalannya, Antagopa dinaikkan pangkatnya jadi demang, diberi wilayah kademangan Widorokandang.

Begitulah Gareng membatin.

“Saya kuliah di Universitas Airlangga, Mas Gareng…”

“Jurusan?”

“Jurusan memanah…”

“Wow! Ambil S-1 memanah?” Gareng membatin. Bukankah Larasasati sudah ahli memanah, walaupun kalah top sama Srikandi? Sering digambarkan panah putri Negeri Pancala itu cuma bisa memotong sehelai rambut. Tapi panah putri dusun Widorokandang ini mampu membelah sehelai rambut menjadi tujuh helai.

***

    Tiga hari kemudian pas istri Gareng pergi ke wisata air Roro Kuning di lereng Gunung Wilis, Nganjuk, mahasiswi Unair jurusan Memanah itu kembali lagi sudah dengan koper tapi juga dengan seorang bayi. Gareng sebenarnya agak nggak enak. Janjinya cuma tinggal sendirian seperti pemondok lainnya. Kok sekarang bawa-bawa bayi laki-laki.

“Tolonglah Kang Mas. Ke siapa lagi saya harus minta tolong. Ndak semua pemilik kontrakan di Gubeng ini kasih izin bawa bayi… please…please…please…”

“Hmmm…Nama bayi ini?”

“Bratalaras…”

Gareng tersentak. Sulung ponokawan itu tak dapat menutupi kekagetannya. Bratalaras adalah anak Dewi Larasati dengan penengah Pandawa Raden Arjuna. Selain menikahi Srikandi dan mengajarinya memanah, Raden Arjuna memang juga menikahi Dewi Larasati walau tak sekalian mengajarnya memanah.

Maka tak ada alasan lain bagi Gareng kecuali menerima Dewi Larasati dan oroknya si Bratalaras menjadi penghuni kos-kosannya. Apalagi penghuni lain tak keberatan ketika dimintai izin Gareng soal ada anak kecil yang mungkin sering menangis. Mereka malah seneng. Dasarnya Bratalaras memang imut-imut dan lucu.

Perkara timbul setelah semingguan kemudian istri Gareng datang dari menjajagi kemungkinan jualan baju-baju di tempat wisata lereng Gunung Wilis. Itu pas tengah malam. Dari ruang kos-kosan di halaman belakang rumah Gareng terdengar bayi pijer nangis.

Sontak Dewi Sariwati membangunkan Gareng yang pulas dan ngorok. “Ooooo….Gitu ya Kang Gareng? Ngono iku kelakuanmu!? Nggak sampai dua minggu aku tinggal kamu, kamu sudah bikin anak?” Dewi Sariwati nyerocos dan sangat keras.

“Kalem bu’e …Kalem…duduk dulu…minum air putih…Ini ada apa?”

“Ada apa …Ada apa…Gitu ya polahmu!? Sempat-sempatnya kamu bikin anak pas aku lungo!? Itu bayi siapa yang kejer nangis?”

Dewi Sariwati napasnya makin menggeh-menggeh. “Kang Gareng, kalau kamu mau tega-teganya nyakitin aku, mbok ya jangan keterlaluan. Sampai bikin anak segala. Hiks hiks hiks….Mbok pakai kondom. Ingat saran Bu Menkes yang baru…pakai kondom, Kang…Kondoooooom….”

“Ssssttt….Kalem bu’eeee….Sabar…Istighfar…Coba pikir…Bikin anak sampai lahir itu perlu sembilan bulan lebih…Masa ini dua minggu sudah mak bedunduk bayinya gede dan bisa nangis?”

“Ya siapa tahu, Kang. Kan sekarang sudah zamannya teknologi modern…meteng karo manak bisa dipersingkat…Wong dulu sebelum ada Instagram saja Bandung Bondowoso sudah bisa membangun Candi Prambanan cuma dalam semalam …”

***

    Cekcok demi cekcok terus berlangsung saban hari antara Gareng dan istrinya. Lama-lama Gareng berhasil meyakinkannya bahwa yang dirintisnya lebih dari sekadar usaha kos-kosan. Ia ingin menjadikan pondokannya seperti rumah HOS Cokroaminoto dulu di Surabaya. Tempat penggemblengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Douwes Dekker, Ahmad Dahlan, Muso, Semaun, Alimin, Cipto Mangunkusumo dan Soekarno.

“Aku melihat masa depan. Aku melihat bayi Larasati ini bukan bayi biasa,” ujar Gareng. Tanpa ia jelaskan bahwa Bratalaras adalah anak istimewa dari 16 anak Arjuna. Wataknya halus, tenang, pemberani dan sangat berbakti pada nusa dan bangsa.

“Istimewanya bayi itu apa, Kang Gareng?”

“Hmmm…Sulit aku ngomongnya…Tapi lihat saja ibunya. Dia belajar memanah pada Raja Airlangga. Manah dalam bahasa Jawa artinya hati. Jadi dia sedang mempelajari hati rakyat Nusantara dari Raja Besar Majapahit…Itu yang sekarang dilupakan para pemimpin…Banyak pemimpin pinter. Tapi sekarang kita tak butuh orang pinter yang ndakik-ndakik. Kita butuhnya pemimpin yang ngerti hati kita semua…”