AREA 2007 - 2008

From Jakarta Barat with Making Love…

4,146 Views

Jakarta Barat, Chinatown dan kampung Arab, dikenal banyak menyimpan wisata sejarah. Semua mahasiswa pasti akan bisa menjawab gedung-gedung bersejarah itu apa aja. Kecuali mahasiswa yang sedang tersinggung lagi, mogok bicara lagi, menjahit mulutnya lagi, karena lagi-lagi harga elpiji naik.

Yang cuek bebek akan kenaikan elpiji pasti dapat menjawab lancar: Gereja Sion tinggalan Portugis; Gereja Katolik Santa Maria de Fatima bergaya Cina; Asrama Polisi Palmerah yang disebut “landhuis” karena selama abad ke-19 tertinggi di lingkungannya; Toko Merah Kuil Lie Tie Guai…dan lain-lain belum lagi perkantoran-perkantoran lebih modern di Jalan Kali Besar Barat.

Saking uniknya Jakarta Barat, sapi-sapi kalau merumput atau istirahat di Monas Jakarta Pusat kayaknya badannya bakal mengarah ke barat deh. Badan para sapi itu tidak akan mengarah ke utara-selatan, seperti silet di atas air, persis kebiasaan sapi selama berabad-abad karena tubuhnya mengandung potensi kompas.

Gimana ndak unik. Meski namanya “Barat” alias pinggir, bukan pusat, justru Jakarta Raya ini mekar dan bercikal bakal dari pinggiran itu. Ini karena Pelabuhan Sunda Kelapa dari Kerajaan Hindu Pajajaran abad ke-14, cikal bakal Batavia, ada di Jakarta Barat.

Mungkin hanya batu dicemplungkan ke air, yang riak di pusatnya pasti muncul lebih dahulu alias lebih tua ketimbang riak-riak di lingkaran luar yang menyusul kemudian alias lebih muda.

Baik juga kalau pihak-pihak yang gemar iseng bikin kubu tua-muda dalam pilpres mendatang belajar dari kasus Jakarta Barat. Yang pinggir belum tentu lebih muda ketimbang yang pusat. Orang gaek di atas 50 tahun, belum tentu (berjiwa dan berpikiran) lebih tua ketimbang anak yang baru lulus SMP dan mengikrarkan diri sebagai capres independen.

Dan di Jakarta Barat-lah saya kenal dua orang Betawi asli yang SD aja ndak tamat, tapi menarik. Pertama laki-laki. Lahirnya kapan dia ndak tahu. “Pokoknya kata ibu saya, pas PKI meletus, saya sudah merangkak jatuh-jatuh,” katanya. Kerjaannya sopir yang narik disel untuk syuting film.

Menurut dia, pendidikan umum tak sepantasnya dipisahkan dari pendidikan agama. Karena pendidikan astronomi, fisika, biologi dan lain-lain prinsip-prinsipnya sudah ada di Al Quran. Soalnya tinggal bagaimana kita membuat riset sosial dan ilmu alam atas dasar Kitab Suci.

Yang kedua perempuan. Waktu sekitar dini hari kami naik mobil di jalan yang pas cuma buat satu mobil, di tengah jalan ada kucing kawin. Dia minta mobil stop. Ada sampai 15 menitan kami menunggu kedua mempelai selesai making love.

Saya tanya, “Apa kamu pernah baca Mahabarata bahwa Pandu, ayah Pandawa, dikutuk dewata karena menganggu binatang yang sedang bercinta?” Dia malah baru dengar kata Mahabarata. Dia cuma pakai insting dan perasaan saja, ndak pantas mengganggu siapapun yang sedang making love.

Calon-calon anggota legislatif yang tak punya riwayat sosial-politik dan cuma membangga-banggakan gelar kesarjanaannya, baik juga berkenalan dengan kedua warga di Jakarta Barat itu.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA 37, tanggal 28 Agustus 2008)