AREA 2007 - 2008

Jakarta Pusat…

4,159 Views

Mumpung masih dalam suasana Ramadhan. Mari kita sitir ungkapan para kiai mengutip Nabi SAW. Bahwa, sabdanya, dalam manusia terdapat satu pusat penentu. Jika pusat itu baik, baiklah seluruh unsur manusia. Dan sebaliknya. Itulah hati.

Saya kira Jakarta kok gitu juga. Jika pusat itu baik, maka baiklah seluruh Jakarta. Dan sebaliknya. Namun, kayak hati juga, sebagai pusat letaknya tak harus persis di tengah-tengah. Kalau persis di sentral namanya malah udel.

Di manakah “pusat” alias hati Jakarta? Mungkin di Menteng, yang memang terletak di Jakarta Pusat, tempat bermukim orang-orang penting di negeri ini. Atau tidak harus di Menteng, Monas, Tanah Abang, Kebon Sirih dan lain-lain?

Ini karena seperti pernah saya bilang, Jakarta alias Batavia tidak bercikal-bakal dan tidak merantak dari Menteng dan sekitarnya. Ibu Kota ini justru berkembang dari Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta Barat.

Sekali lagi, apakah Jakarta Pusat betul-betul ada di Jakarta Pusat? Saya tidak tahu. Di tempat yang secara fisik menjadi wilayah Jakarta Pusat itu, pekan lalu, saya cuma bertemu arsitek Ir Martono Yuwono, yang sudah bekerja di Pemprov Jakarta selama tujuh gubernur sejak Bang Ali. Kami bertemu di Jalan Riau dekat Sarinah, tempat mantan Menteri Pak Joop Ave sehari-hari mangkal.

Kata Mas Martono, ketika Bung Karno meninggalkan tempat pembuangannya di Bengkulu menuju Jakarta, si Bung setelah terkatung-katung selama 4 hari 4 malam dengan perahu kecil tak layak layar, mendarat dan mencium tanah di Pelabuhan Pasar Ikan Jakarta, pertengahan 1942. Ini persis dengan lokasi pendaratan Sultan Agung ketika memimpin armada Mataram menyerbu Batavia.

Seingat saya di tempat itu belum ada monumennya. Kalaupun sudah ada monumennya, kok tidak seterkenal Monas, padahal artinya sangat penting buat Jakarta. Setidaknya buat mengingatkan kita agar Jakarta punya hati yang menggerakkan seluruh unsur kota menjadi kota bahari.

Di Singapura, tempat Raffles mendarat, kini dijadikan suatu taman dan tugu peringatan yang elok. Di Riviera, tepatnya Golfe-Juan, Perancis Selatan, tempat pendaratan Napoleon sepulang dari pembuangannya di Pulau Elba, dijadikan tempat bersejarah.

Kalau “pusat” itu beres, meski tak harus ada di tengah-tengah sebagaimana hati, maka bereslah seluruh Jakarta. Mas Martono yang juga pandai bermain violin itu seakan mengatakan bahwa hati Jakarta, pusat Jakarta, mestinya adalah jiwa bahari masyarakatnya, yang sengaja dimatikan oleh Belanda antara lain lewat Perjanjian Gianti, yang melarang orang-orang pribumi membikin kapal.

Di Jakarta Pusat, di tengah gebyar kian gila-gilaannya kapitalisme, juga pekan lalu, saya sowan ke kediaman Fadel Muhammad, di Menteng. Di Jakarta Pusat itu, saya mendengar Mas Fadel yang gubernur Gorontalo dan kader Golkar juga itu bicara dengan bersemangat bahwa sesungguhnya garis kebijakannya yang membuat rakyat makmur di Gorontalo dan mendapat 34 penghargaan kepemimpinan adalah sosialisme.

Pekan lalu, di Jakarta Pusat, saya mendengar spirit kemaritiman dari pemain violin dan sosialisme dari tokoh yang baru di-“singkir”-kan oleh DPP Golkar. Jangan-jangan kedua kata itulah sejati-jatinya Jakarta Pusat, bukan Medan Merdeka Utara-Selatan-Barat-Timur.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA 38, tanggal 8 September 2008)