AREA 2007 - 2008

Kalau Anjing Bisa “Ngomong”

4,593 Views

Saya tanya ke anjing. Kamu cinta nggak ma manusia? Anjing menjawab: Ah lo pura-pura kagak ngarti ya?

Bukan gitu. Persoalannya saya kurang yakin aja. Saya cuma pernah dengar. Di Jepang, di depan suatu stasiun kereta api, ada saudaramu yang lama bengong di situ. Nggak mau makan-minum. Menunggu karib manusianya pulang. Ternyata manusia itu curang. Dia nggak pernah pulang. Anjing itu pun mati di depan stasiun. Iya, kan?

“Ah, guk guk guk…sebenarnya legenda besar itu cuma contoh kecil dari besarnya cinta kami pada manusia…guk guk guk…”

Ya, udah. Gak usah judes gitu. Sekarang ganti saya tanya aja pada manusia. Sampeyan semua bener-bener cinta nggak sih ma anjing? Atau cuma sekadar style? Sama halnya sampeyan nggak cinta sungguh ke kekasih, tetapi berusaha menggaetnya agar bisa gaya di depan khalayak? Terutama di pesta-pesta sehingga sampeyan ma pasangan dijepret wartawan foto, masuk tuh ke majalah-majalah pesta yang kini makin marak?

Iya. Iya. Saya tahu. Sampeyan telah bersusah-payah buat anjing. Rela merogoh sampai Rp 200 ribuan untuk anjing Kintamani anakan aja. Atau sampai Rp 1 juta kalau usianya udah 3 bulanan. Belum buat parfum anjing yang berkisar Rp 20 ribuan untuk produk lokal dan sampai Rp 100 ribuan buat pewangi impor.

Saya tahu itu. Belum untuk anjing jenis lain yang harganya bisa sampai puluhan juta rupiah. Belum biaya salonnya. Belum kalau tiap bulan mesti ke Singapura belanja perlengkapan dan kebutuhan anjing. Ada yang mengaku rata-rata sekali belanja abis sekitar Rp 5 jutaan.

Saya tahu itu. Apalagi ajakan buat mencintai anjing juga makin marak. Najis atau nggak-nya anjing juga banyak yang menafsir ulang. Setahu saya tokoh kebangsaan dari kalangan Islam seperti almarhum Nurcholish Madjid juga nyaranin kita mencintai anjing.

Itu pula ajaran Cak Nur, panggilannya akrab, kepada keluarganya. Di lingkungan RT/RW-nya, keluarga ini dikenal sebagai penyayang hewan termasuk anjing. Prinsip, tak ada ciptaan Tuhan yang hina, apalagi telah terbukti anjing berjasa pada keamanan lingkungan dari kriminalitas.

Ya. Duit udah keluar buat anjing, sampai ke urusan perawatan kuku. Saran untuk mencintai anjing, dalam arti juga nggak mendiskriminasikan ciptaan Tuhan sudah kerap kita dengar. Tapi kembali ke pertanyaan: Sampeyan bener-bener sudah cinta anjing nggak?

Kalau ke Puntadewa alias Yudhistira dalam wayang, saya sudah nggak perlu tanya itu lagi hehe…Cintanya pada anjing sudah proven. Oleh penjaga gerbang sorga, Yudhistira dilarang masuk firdaus itu kalau ia terus bersama anjing yang tiba-tiba mengikutinya.

“O, ya sudah,” jawab sulung Pandawa ini, “Kalau gitu ndak usah masuk surga aku juga ndak patheken. Anjing ini aku nggak tahu siapa namanya. Tiba-tiba ikut aku sejak aku menjelang mati. Setelah di depan sorga ini aku tidak mungkin menghardiknya pergi. Mending aku masuk neraka saja…”

O, bumi gonjang-ganjing…Bareng dengan ucapan lirih Sang Puntadewa itu, anjing yang bernama Lingga-Maya kembali ke wujudnya yang sejati, Dewa Darma.

Eh, sori, kegoda wayang sampai lupa, saya tadi nanya apa ya ke sampeyan?

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA edisi No. 93, tanggal 13 Agustus 2007)