AREA 2007 - 2008

Makanan Empat Sehat Lima Kenangan

4,486 Views

Soekarno pernah lari dari aturan protokoler ke Bioskop Indra Surabaya. Si Bung terlelap di dalamnya. Dan, konon, desas-desus bahwa Proklamator itu pernah terlelap di sanalah yang bikin Ayam Goreng Pemuda di bekas Gedung Bioskop Indra kini laris.

Bukan cuma awam yang butuh mitos. Ilmuwan sekaliber Prof. William Liddle dari Ohio State University pun sama aja. Pak Bill, begitu biasanya sponsor banyak doktor-doktor politik di Indonesia ini dipanggil, suka Restoran Trio, warung kecil di sekitar rel kereta Gondangdia.

Ayah angkat teman Batak saya itu suka mitos juga. Maklum, di warung yang udah 50-an tahun umurnya itu konon piringnya adalah piring bekas tentara AS tahun 50-an.

Pekan lalu ketika janjian dengan seorang pakar pemasaran terkemuka, dia minta ketemu di Restoran Oasis, di bilangan Raden Saleh, Jakarta. Pantes aja. Konon restoran itu sudah berdiri di awal abad ke-20. Kabar burungnya sih tempat ini pernah ditinggali Gubernur Belanda, para opsir tinggi Jepang sampai perwakilan Angkatan Laut AS paska Perang Dunia II.

Begitu pentingnya mitos atau tepatnya kenangan. Saya usul gimana kalau sekolah dasar di Menteng tempat dulu Obama pernah sekolah, dijadikan restoran saja.

Tinggal nanti nama-nama menunya disesuaikan dengan lingkup Obama. Gado-gado karena akomodatif untuk memadukan sayur apa aja, kasih nama Sayur Demokrat. Rawon karena kuahnya gelap kayak kulit Obama, ganti nama Sup Hitam. Restoran baru kayak Dapoer Babah Elite di kawasan Veteran Jakarta dan restoran Kembang Goela menunya kan juga pakai idiom-idiom kenangan, seperti Mevreuw, Rijst dan Djoewita Malam yang persis judul lagu kenangan.

Kita baru ngebahas Jakarta dan Surabaya. Restoran-restoran kenangan tersebar di berbagai kota. Belum Semarang. Ada restoran Toko Oen di sana. Dan itu baru makan berat. Belum kalau kita ngomong es krim. Di Malang, saya lupa namanya, ada juga semacam Es Krim Ragusa kayak di Veteran Jakarta.

Ringkasnya, orang perlu kenangan. Ini bisa didapat dari restoran lama. Atau restoran baru yang ditata secara jadul. Kenangan bisa didapat dari tempat restoran itu sendiri. Atau negara yang dijadikan sumber menu restoran.

Orang-orang yang suka negeri Hongaria, apalagi pernah baca kumpulan cerpennya yang pernah diterjemahkan oleh almarhum Fuad Hassan, Sepuluh Cerita Pendek dari Hungaria, pasti pengin ke Steak Art & Curio Gondangdia, yang menyajikan aneka masakan Hungaria.

Mereka yang punya kenangan akan kota Solo dan menu timlonya, pasti memburu itu juga. Pekan lalu saya ama teman-teman makan di sebuah warung timlo kecil di pinggir tol TB Simatupang. Tempat ini bisa dibilang kumuh. Tapi kemudian saya lihat datang Pak Jenderal (purn) Wiranto dan rombongan.

Waktu saya mau bayar, kasir bilang, “Sudah dibayar Pak Jenderal.” Mungkin karena sebagai orang Solo, Pak Wir berterima kasih karena saya yang orang Jawa Timur ini mau kompakan ikut mengenang Solo via makanannya.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA 43, tanggal 26 November 2008)