Sindo

Titi Kamal….Merdeka!

3,470 Views

Kemerdekaan itu lihat-lihat sikon. Kadang pada sikon tertentu saya pengin seenak sendiri menyebut nama orang dengan panggilan apa aja.

Mungkin akibat pengaruh Betawi. Mereka itu merdeka banget menamai orang. Mau nama orang misalnya Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie atau Sofjan Djalil…pokoknya kalau jualan solar ya dipanggil Mat Solar, kalau jadi tukang las dijuluki Mat Karbit.

Tapi mungkin juga pengaruh dari penyair Mas Willy (Rendra) dan tokoh pers Pak Jakob Oetama. Ini untuk menyebut dua tokoh saja yang segera saya ingat.

Tahu nggak? Pak Jakob menyebut budayawan Emha Ainun Nadjib itu bukan “Ainun” lho tapi “Aimun”. Rendra menyebut psikolog dan aktris Niniek L. Karim itu “Niniek Makarim”. Dengan mantap pula. Seolah-olah Niniek itu kalau ndak isterinya ya anaknya pakar hukum dan pecinta sastra Nono Anwar Makarim. Minimal tetangganya. Padahal bukan.

Ada banyak pengaruh. Bukan asli saya. No problem.

Merdeka toh ndak harus menjadi asli. Apalagi menggembar-gemborkan keaslian. Kita kan bukan kecap? Apalagi parfum atau ballpoint yang dijajakan di Bandara. Kita ini orang merdeka, baik di tanggal 17 Agustus atau di Hari Valentine atau di hari terbunuhnya Lady Di atau tanggal-tanggal di luar itu. That’s all.

***

Pengaruh datang dari berbagai penjuru untuk negara yang sudah merdeka, tak cuma dari satu-dua penjuru. Begitu juga, selain Betawi, Rendra dan Pak Jakob, bahan-bahan bacaan mungkin juga turut mempengaruhi tabiat saya menyeru nama orang dengan panggilan apa saja.

Bahan bacaan mengajar saya bahwa orang-orang besar biasanya sibuk pada hal-hal besar dan tertentu saja. Mereka mudah lupa, termasuk pada nama orang. Ini ditambah pengalaman konkret saya waktu hadir di seminar wayang di Yogya. Saya ketemu orang besar lulusan universitas terkemuka Harvard, ekonom Dr Hartojo Wignjowijoto.

Di sesi seminar pagi kami berkenalan. Pak Hartojo minta kartu nama saya. Saya kasih. Ketemu lagi di sesi siang, Pak Hartojo berkenalan lagi dan minta kartu nama lagi. Saya kasih lagi. Saya tiba-tiba berakting ikut-ikutan lupa bahwa sudah kasih kartu nama pada sesi pagi. Eh, di sesi sore, pas ketemu lagi, beliau berkenalan lagi, minta kartu nama lagi.

“Wah,” saya pikir ketika itu, “berarti benar buku-buku bacaan. Semakin besar orang, semakin pelupa orang itu. Karena saya bukan orang besar, maka untuk memberi kesan besar, saya harus sering pura-pura lupa termasuk terhadap nama orang.”

***

Tetapi, Ibu-ibu, kan kemerdekaan juga sedikit banyak berarti bebas berbuat apa saja. Artinya, di samping bebas untuk pura-pura lupa nama orang, juga bebas untuk pura-pura ingat nama orang. Apakah kita kehilangan kemerdekaan kalau memanggil nama orang pura-pura sesuai dengan nama si empunya?

Dan siapa bilang orang besar selalu lupa nama orang? Dalam setiap hal pasti ada perkecualiannya. Dalam seribu arisan, pasti ada satu saja ibu-ibu yang anteng. Bung Karno orang besar. Bung Karno itu pengingat nama orang. Bagi saya, Budi Darma, mantan Rektor IKIP Surabaya, adalah sastrawan besar. Pak Budi Darma pengingat nama orang, bahkan nama teman saya yang cuma sekali dan sekelebat dijumpainya di Taman Mini.

Jadi, pada sikon tertentu, saya juga ingin menjadi orang merdeka dengan cara memanggil nama sesuai nama yang berkaitan. Suatu siang, di Radio Delta Jakarta, saya diperkenalkan oleh Shahnaz Haque kepada tokoh yang kerap muncul di televisi membawa acara kesehatan. Ah, sekarang secara merdeka dan akrab saya akan panggil tokoh ini sesuai nama yang saya yakini betul-betul sebagai namanya.

Saya panggil dengan yakin, “Hai! Lulu Kamal…”

Dia menoleh ke Shahnaz, terperangah, lantas tertawa, “Salah, Mas. Saya Lula Kamal…Kalau Lulu itu Lulu Tobing…”

Waduh!

***

Ini alam merdeka. Orang bebas menyebut nama. Tapi sejak naas di radio itu saya mulai sungguh-sungguh mengeja dan menyimak nama tokoh-tokoh, terutama yang namanya bersentuhan. Sekarang saya sudah bisa membedakan bukan saja Lulu Tobing dan Lula Kamal, tetapi juga Lula Kamal dan Luna Maya. Termasuk dapat sudah saya bedakan Lula Kamal dan Titi Kamal.

Ketika akhir bulan lalu kebetulan shooting bareng di Cikarang, ada perempuan berambut hitam dan panjang, nyamperin saya, kenalan, saya berseru, “Hai! Titi Kamal…” Dia tersenyum, persis mesemnya di iklan-iklan mi di jalanan. Sip! Berarti nama yang saya serukan sudah pas.

***

Kemerdekaan juga berarti kesediaan menerima berbagai definisi tentang kemerdekaan. Bagi saya, kemerdekaan itu kebebasan memanggil nama orang sesuai maupun tidak sesuai dengan nama yang berkepentingan. Bagi Titi Kamal, kemerdekaan adalah kebebasan menyela sepanjang ia yakin bahwa yang diselanya tidak keberatan atau malah hepi.

Pas break shooting, di tengah boulevard, di antara kebun dan perdu Cikarang, saya meniup saksofon. Lagu lama Somewhere over the Rainbow. Siang itu Titi Kamal lalu datang menyela dengan tembang yang lain. Ia menyenandungkan nomor sentimental Annie Lennox (?) A Whiter Shade of Pale. Nada-nada tingginya bagus. Saya hepi. Saksofon saya beralih menyongsong nada-nada Titi yang panjang dan mengalun…Langit lumayan bersih di atas sawah-sawah luar Jakarta.

(Dimuat di harian Sindo No. 98, tanggal 16 Agustus 2008)