Sindo

Perempuan Sparta dan Klenik APBN

3,800 Views

Ibu-ibu yang terhormat, mohon maaf, ini darurat! Jadi terpaksa tak dapat saya sampaikan hal-hal yang mungkin pengin didengar oleh Ibu-ibu. Misalnya bagaimana memilih baju, aksesoris, sepatu dan lain-lain. Sekali lagi ini darurat! Saya ingin ngomong soal mitos baru abad ini: APBN!

Namun demikian, mudah-mudahan via pembicaraan tentang klenik baru itu, pada akhirnya nanti Ibu-ibu akan lebih mudah belanja busana, pergi ke salon, membeli bunga, kue ulang tahun dan sejenisnya oleh karena harga-harganya jadi terjangkau. Anak-anak pun bisa berangkat ke sekolah dengan uang saku yang wajar.

Orang bijak kerap bilang, termasuk ahli pikir Yunani, Socrates, perbaikan keadaan tidak diawali oleh solusi. Perubahan ke arah kemaslahatan bersama justru kerap dan hampir selalu dimulai oleh pertanyaan.

Maka, Ibu-ibu, mari menyatukan diri, tidak harus melalui organisasi apa pun, tetapi menyatukan hati nurani untuk mengajukan pertanyaan: Benarkah APBN yang selalu digembar-gemborkan itu menyangkut mati-hidupnya negara? Benarkah seserem itu APBN, sehingga demi APBN berimbang harga BBM harus naik?

Mari kita menyatukan diri, tak mesti melalui partai, tetapi menyatukan pikiran yang jernih dengan mengacungkan tanda tanya: Bukankah ternyata APBN itu cuma menempati 20 persen perekonomian nasional, sisanya 80 persen adalah ekonomi rumah tangga dan industri?

Mari kita menyatukan diri, tak mesti melalui LSM-LSM, tetapi menyatukan pandangan jauh ke depan guna perbaikan kehidupan sesama sambil merancang pertanyaan: Bukankah APBN yang ingin diselamatkan melalui kenaikan BBM itu hanya menyangkut dan demi kehidupan 4,5 jutaan birokrat? Ya makan mereka, ya perjalanan dinas mereka, ya baju-baju mereka, ya biaya pengawalan dan pengobatan mereka? Bukan menyangkut penduduk sisanya, yakni 200 jutaan warga Indonesia?

Tentu tak bisa kita tutup mata bahwa ada juga warga bukan birokrat yang turut kecipratan APBN. Misalnya tukang jahit baju pegawai atau pejabat yang dibiayai APBN. Kuli-kuli bangunan yang mengerjakan jembatan, gedung-gedung dan lain-lain yang dibiayai APBN. Tapi jumlahnya pasti tak seberapa dibanding 200 juta lebih penduduk Indonesia.

Maka, Ibu-ibu, mari kita manunggalkan rasa meski tetap dengan semesta kesabaran untuk sekali lagi bertanya: Di manakah hati nurani orang-orang yang memitoskan APBN, membuat APBN jadi klenik, tapi membikin megap-megap dan sekarat sebagian besar suami, anak, keponakan, menantu, cucu dan lain-lain di Tanah Air?

****

Ibu-ibu yang terhormat, sekali lagi mohon maaf, ini genting! Sangat genting! Maka tak dapat saya haturkan di sini segenap perkara yang mungkin pengin Ibu-ibu simak. Misalnya bagaimana cara bikin “rawon setan” ala Tunjungan Surabaya, Serabi Solo, tape ketan Brebes dan lain-lain.

Keadaan begitu genting. Tolok ukurnya alangkah gampang. Warung-warung dan kaki lima makanan amat murah yakni “nasi kucing” sekarang makin bertumbuhan di mana-mana.

Maka, Ibu-ibu, mari berbarengan kita kucurkan air mata kita dalam satu cawan pertanyaan: Jika betul penerimaan terbesar APBN, sekitar 2/3, berasal dari pajak, padahal dari 220 juta penduduk Indonesia yang aktif bayar pajak cuma sekitar 6-7 juta orang, kenapa yang dinaikkan justru BBM? Kenapa pajak tak lebih diburu lagi sehingga makin berjuta-juta orang berada lagi yang bayar pajak secara benar?

Mari kita singkirkan dendam kesumat dan amarah kita serta….O, Ibu-ibu, saya tahu betapa susah menyingkirkan perasaan itu di zaman ketika lauk-pauk dan jasa ojek kian melambung harganya, tapi saya percaya dengan niat baik dan tulus maka seluruh rasa hitam itu bisa kita depak.

Mari kita rentangkan ketulusan kita dan kita gandengkan tangan-tangan ketulusan kita untuk bertanya: Jika pada peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional seluruh televisi memamerkan kekuatan tentara kita (ada yang melompati lingkaran api dengan mata tertutup, ada yang mematahkan logam dengan pukulan satu jari dan lain-lain), kenapa kekuatan itu cuma dipamerkan?

Mengapa kekuatan itu tak kita gunakan untuk meninjau kembali perjanjian-perjanjian usaha dengan pihak asing termasuk pertambangan yang lebih menguntungkan asing? Sehingga penerimaan APBN dari minyak dan tambang-tambang lain meningkat, dan harga BBM dalam negeri tak perlu dinaikkan?

Bukankah kerja sama asing itu, kalau perlu, bisa kita batalkan. Jadi harus menguntungkan Indonesia. Sehingga setiap ada kenaikan harga minyak dunia, bukan teror yang disampaikan oleh government pada rakyatnya seperti selama ini, tapi berita baik. Presidennya akan pidato, “Kabar baik! Kabar baik! Saudara-saudara. Harga minyak dunia naik lho….Asyiiiiik. Kita untung….!”

Ya, perjanjian dengan asing yang merugikan Indonesia itu kalau perlu kita batalkan. Dan kita ambil risiko perang kalau perlu, bahkan duel dengan negara adidaya sekalipun.

Dalam hal ini, Ibu-ibu, saya agak tersinggung nonton film 300, tentang 300 prajurit Sparta yang sanggup memporak-porandakan puluhan ribu bala serdadu Persia dan dengan peralatan perang yang jauh lebih kuat. Konon itu karena perempuan Sparta. Katanya, hanya perempuan Sparta, satu-satunya tipe perempuan di dunia yang bisa membuat laki-lakinya berani bertempur.

Di muka bumi yang sanggup menekadkan laki-laki hanya kaum kekasih Sparta! Hanya kaum isteri Sparta! Hanya kaum ibu Sparta!

Tapi mohon maaf, Ibu-ibu, apakah gendang telinga Ibu-ibu tidak pedih mendengarnya?

(Dimuat di harian Sindo No. 88, tanggal 29 Mei 2008)