AREA 2007 - 2008

Pernikahan Hijau

3,119 Views

Sepasang pengantin habis akad nikah langsung menanam pohon. Ini terjadi di Jawa Barat. Belum lama kok. Pokoknya Sebelum Dede Yusuf terpilih jadi wakil gubernur di situ. Saya lupa tempat persisnya, entah Kuningan, Garut atau Tasikmalaya.

Waktu itu saya pas lewat. Ada mempelai masih berpakaian pengantin adat Sunda (suaminya asli Yogya), mencangkul lalu menanam pohon. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu ketika Pak Ishadi SK, kini memimpin Trans TV, berkampanye tanam pohon.

Intinya, orientasi mesti diubah. Nadar mesti dinyatakan dengan penghijauan. Naik kelas…tanam pohon. Habis melahirkan…tanam pohon. Naik pangkat…tanam pohon…Menikah…tanam pohon. Pokoknya tanam, tanam, tanam…

O ya, itu sebelum BBM dinaikkan. Halnya agak berbeda ketika harga BBM sudah naik. Di Gunung Salak, masih di provinsi yang sama, saya melihat orang-orang sudah mulai mengambil kayu dari hutan lindung di kawasan Sukabumi-Bogor itu. Untuk kayu bakar.

Padahal, seingat saya, kecuali di hutan industri dan hutan konservasi (alam), di hutan lindung jangankan mengambil cabang, mengambil ranting, atau bahkan sehelai daun saja tak diperkenankan.

Kok para petugas kehutanan diem aja? “Bukan diem atau takut,” kata salah seorang mereka, “Tapi kami bisa mengerti kondisi penduduk. Minyak tanah mahal. Mereka perlu masak. Masa ngambil ranting saja kita gak kasih?”

Mungkin memang gak terlalu ngaruh ya kalau hutan kita ambil kayunya cuma buat memasak. Apalagi kalau bersamaan itu setiap orang yang dapat rezeki punya nadar menanam pohon. Patah tumbuh hilang berganti.

Tumbuhnya bisa lebih banyak ketimbang patahnya, jika jumlah penadar jauh lebih banyak ketimbang yang berteriak-teriak tak mampu beli minyak tanah lantas merusak hutan. Atau penadar hijau tak banyak, tapi sekali tanam seorang penadar bisa menanam ribuan bahkan jutaan pohon.

Sayangnya, hanya dua pohon ditanam yang saya lihat dalam upacara pengantin tadi. Mungkin karena bibitnya mahal, sedangkan kemampuan ekonomi mempelai terbatas.

Bagaimana kalau biaya pernikahan pengantin itu sampai Rp 200 milyar seperti gosip belum lama ini, yakni tentang pernikahan anak petinggi Jakarta yang berlangsung di Bali?

Wah, mereka bisa tanam ribuan pohon. Tapi itu pun masih kurang. Saya usul mereka harus membeli mobil ramah lingkungan yang dibikin Honda. Misalnya mobil FCX Clarity dengan bahan bakar beremisi nol, hidrogen, yang dipakai orang-orang Hollywood macam Jamie Lee Curtis dan Laura Harris.

Mereka juga bisa pesan ke Genepax, perusahaan mobil lain di Jepang. Mobil mereka berbahan bakar air. Prototipenya sudah dibikin pertengahan Juni lalu.

Usulan ini pasti jauh lebih masuk akal, ketimbang saya usul agar di pesta pernikahan itu, kalau ada layar tancap, muter film An Inconvenient Truth-nya Al Gore.

Eh, boleh juga sih kalau kampanye hijau akan digabung dengan kampanye Keluarga Berencana. Saya jamin, abis nonton mantan wakil presiden Amerika Serikat tentang bencana yang bakal menimpa planet bumi, setiap pasangan takut dan kasihan punya anak. Cemas, karena betapa akan hancurnya bumi dalam hitungan tak lebih dari 50 tahun.

(Dimuat di rubrik ‘Frankly Speaking’ AREA 34, tanggal 28 Juni 2008)