Sindo

Ryan…

3,818 Views

Temen saya, Titi Kamal, takut dimintai komentar soal Ryan oleh stasiun televisi. “Aduh nggak deh. Nanti kalau Ryan pas kebetulan nonton teve di tahanan gimana?” alasannya.

Saya bisa terima alasan teman dari “Partai Makan Mie” itu. Bagi saya, yang kurang sedap seperti mie-nya Titi adalah cara sebagian besar kita menarik kesimpulan.

Kesimpulan kita suka kacau. Persis pengelolaan minyak kita. Ryan gay. Ryan sadis. Ryan “memutilisir” 11 orang. Itu baru yang dalam keadaan diketahui. Kesimpulannya, gay itu sadis. Ini kan pikiran kacau?

Padahal saya sering ketemu gay, bahkan pentolannya. Saya pernah cukup lama di Belanda ama Mas Dede Utomo, gembongnya gay. Orangnya baik tuh. Dari pengajar di Unair itu saya malah dapat banyak pengetahuan.

Alih-alih sadis. Bahwa kaum gay main paksa juga belum tentu.

Waktu SMA saya hobi ngamen pakai gitar dari kota ke kota pas liburan. Abis Isa terkatung-katung di Ketapang, Banyuwangi, juga abis duit buat nyeberang ke Bali. Lalu ada laki-laki rapi baik hati nawarin nginep di rumahnya.

Lelaki berambut klimis ini bekerja di hotel Manyar, hotel terbaik di Banyuwangi saat itu. Eh, pas tengah malam dia masuk ke kamar saya lho. Pahaku digerayangi. Saya menolak.

Dia gak maksa tuh? Dia lalu pergi ke kamarnya sendiri. Bangun pagi saya lihat dia sudah nimba sumur buat saya mandi. Abis mandi kutolong dia nyiapin sarapan. Lalu saya pamit.

***

Di luar segala kacaunya kesimpulan, pastinya, yang bikin saya iri ke kaum gay tuh ya totalitas cinta mereka. Mereka tuh kalau sudah kasmaran, wah, mati-matian deh jatuh cintanya. “Karena menurutku komunitas gay sangat terbatas,” kata Sarah Sechan, aktris teater musikal Miss Kadaluwarsa, kemarin.

Maksud temenku, karena terbatas, karena tertekan oleh lingkungan, mereka kompak. Ya mungkin ini salah satu alasan. Tapi saya yakin di dunia tak ada satu hal pun yang alasannya tunggal. Apa gerangan lain-lain alasan itu ya meneketehe…mana ku tahu…

Apapun penyebabnya, saya selalu merinding, bergidik, mendengar lagu kelompok musik Naif, Posesif, ciptaan Dekap Mega Lembayung Sepi, yang video klipnya dibawakan oleh model Joko Wiyatno Suwito alias Jeanny Stavia (Avi).

…Bila ku mati, kau juga mati/ Walau tak ada cinta sehidup semati/ Jadilah engkau milikku selalu .. utuh/Tanpa tersentuh .. cuma aku…

Mana ada laki-laki atau perempuan sekarang berkata atau malah berbuat kayak gitu ke pasangan lawan jenisnya (Padahal hidup kan perbuatan ya, Mas Sutrisno Bachir?). Cerita bahkan kelakuan konkret seperti Juliet yang bunuh diri lantaran menyangka Romeo telah mati sudah tak ada lagi dalam pasangan lawan jenis.

Kaum moralis cuma berkali-kali mengimbau agar kaum gay balik ke jalan “normal”. Celakanya orang-orang “normal” tak ada yang urun contoh betapa agung dan sucinya cinta. Cerita mati duaan seperti Sampek-Engtay maupun Roro Mendut-Pronocitro tak lagi ditampilkan konkret oleh pasangan “normal”.

Juni 2006 ada sejoli yang bunuh diri barengan di Palembang. Tapi mereka adalah pasangan gay, Darmawan Rasyid Ridho dan Suprapto,

Kutipan dialog:

I walked a thousand miles just to slip this skin…Night has fallen. I’m lyin’ awake…I can feel myself fadin’ away…So, will you receive me, Brother, with your faithless kiss? Or, will we leave each other alone like this…?

…tidak saya dapat dari film tentang pasangan “normal”. Wah itu dari film tentang gay, Philadelphia. Tom Hanks bintangnya.

Spirit dialog serupa juga bertaburan dalam film Brokeback Mountain (2005) arahan sutradara Ang Lee dan dibintangi Heath Ledger serta Jake Gyllenhaal. Film tentang pertemuan pasangan lelaki di peternakan domba ini menang di Golden Globe 2006 sebagai film terbaik. Di Oscar dapat sutradara terbaik.

***

Waktu di Sidney untuk misi kebudayaan yang dananya mepet sehingga tak mungkin nginep di hotel, saya sudah nglarang teman saya, perempuan penyair, bermalam di rumah teman lelakinya yang gay, di kampung Roozale.

Bukan apa-apa. Saya takut pacar si gay itu cemburu meski ke perempuan. Bisa mati penyair itu. Untung penyair ini bergegas pindah, karena tak lama berselang pacar si gay itu datang dari luar kota. Dan benar. Teman-teman sang penyair di Australia juga bilang, “Untung kamu lekas pindah. Bisa mati kamu kalau kepergok masih tinggal di rumah itu.”

Di Tanah Air, dalam pekerjaan di kesenian sering banget saya nyaksiin kawan kerja saya yang gay dijemput pasangannya. Ya pas latihan ya pas pentas. Mereka berdiri menyandar tiang belakang panggung. Ada yang berdiri menyandar mobil di parkiran sambil bersedekap. Dan mereka itu, dalam pandangan saya, kalau menjemput ya jemput-nya total seperti gaya sepak bola Belanda se-Turki-Turki-nya.

Tak hanya badannya yang menjemput. Seluruh detil tubuhnya bahkan! Ya rambutnya, ya alisnya, ya hidungnya, ya tangannya… Seluruhnya seakan-akan berpartisipasi menjemput. Total! Batinnya, yang terpancar dari sorot matanya, juga total ambil bagian menyongsong sang kekasih.

Maka, wahai kaum moralis, jangan pernah berkoar-koar lagi minta jumlah gay dikurangi, sebelum kaum “normal” memberi contoh yang lebih keren tentang betapa agung dan kudusnya cinta.

(Dimuat di harian Sindo No. 96, tanggal 01 Agustus 2008)