Wayang Twit

Wayang Twit: #Wisanggeni

8,811 Views

STcartoon1Tweepswati dan Jancukers yang mau gelar tikar silakan.. kali ini wayangnya Wisanggeni… tokoh paling berani dalam wayang… ceplas ceplos…
Yang mau bikin kopi, bikin kopi dulu, yang mau beli kacang, beli kacang dulu..

Wisanggeni… inilah tokoh yang paling Njancuuki.. Wisanggeni beda  ama tokoh wayang-wayang lain. Tak banuak pake asesoris. Praktis ia cuma pakai cawat. Kepalanya agak ndongak tapi tak sombong. Kalau bicara, nada suara Wisanggeni tinggi, serak, ngeyel, tapi tak membuat lawan bicaranya membencinya.. bagi Wisanggeni, Jancuk ya Jancuk…

Tapi mana ada orang-orang munafik dan mapan dan mbadogi duit negara tapi berlaku santun, rela kalau ada perubahan? Gak ada! Orang-orang mapan munafik itu adalah para Dewa, mereka tak ingin Wisanggeni hidup.. karena mereka yakin Wisanggeni dapat mengubah mindset manusia.
Bumi Gonjang Ganjing langit kelap.. kelap.. menunggu Wisanggeni… Wisanggeni… Katon lir kincanging… Tokoh urakan. Tapi Kresna saja takut..

Tweepswati dan Jancukers yang mau gelar tikar silakan.. kali ini wayangnya Wisanggeni… tokoh paling berani dalam wayang… ceplas ceplos…
Yang mau bikin kopi, bikin kopi dulu, yang mau beli kacang, beli kacang dulu..

Wisanggeni… inilah tokoh yang paling Njancuuki.. Wisanggeni beda  ama tokoh wayang-wayang lain. Tak banuak pake asesoris. Praktis ia cuma pakai cawat. Kepalanya agak ndongak tapi tak sombong. Kalau bicara, nada suara Wisanggeni tinggi, serak, ngeyel, tapi tak membuat lawan bicaranya membencinya.. bagi Wisanggeni, Jancuk ya Jancuk…

Tapi mana ada orang-orang munafik dan mapan dan mbadogi duit negara tapi berlaku santun, rela kalau ada perubahan? Gak ada! Orang-orang mapan munafik itu adalah para Dewa, mereka tak ingin Wisanggeni hidup.. karena mereka yakin Wisanggeni dapat mengubah mindset manusia.

Wisanggeni adalah anak Arjuna dari Dewi Dersanala, bidadari putri Batara Brama, Dewa Api… bos para Dewa (bukan Tuhan, semacam malaikat) gak setuju. Bos Para Dewa itu dalam wayang disebut Batara Tanpa Tanda Jasa.

Bagong: “Batara siapa?”
Dalang: “Jancuk kamu Gong! masa gitu aja nggak ngerti?”

Batara Tanpa Tanda Jasa adalah Batara Guru…

Bagong: “Dalange asuu!!!”
Dalang: “Biarin Gong!”

Batara Guru tak setuju Dewi Dersanala nikah dengan Arjuna. Maka meski Dersanala sedang bunting Wisanggeni, keduanya dipaksa cerai… cerai..

Seorang presenter yang mirip Yuni Shara bilang: “Selamat Malam, Saya bukan Kakak KD, hanya mirip, dan akan bicara soal Ibu Wisanggeni.”
Presenter Entotainment mirip Yuni Shara: “Telah terjadi perceraian Arjuna dan Jambu Dersono, eh, maaf, Dersanala.. Gara-gara Prabu Dewasrani..”
Presenter Entotainment “Yuni Shara”: “Tidaj ada dusta dalam perceraian Arjuna-Dersanala. Perceraian pure akibat hasutan Batari Durga..
Presenter “Yuni Shara”: “Waduh jancuk! dalangnya lupa lagi hashtag #Wisanggeni.. Dersanala akhirnya hidup bersama Prabu Dewasrani…”

Andai Dersanala dan anak Batari Durga, Dewa Srani ada di Yogya tahun 80an, pasti dinamai Kumpul Kebo alias Samen Leven.

Setelah Wisanggeni lahir, Dewasrani langsung menceburkan bayi itu ke Kawah Candradimuka… Bumi Gonjang Ganjing… Geger Alam Raya!!!

Semula Dewasrani akan mendatangi Aburizal Bakrie untuk mencemplungkan Wisanggeni ke kawah Candradimuka, minta izin, tapi diusir satpam. Kata Satpam, “Kalo lumpur panas Lapindo baru izin Pak Ical… Kawah ini bukan Lapindo, tapi Kawah Candradimuka.”

“Jancuk”, kata Dewasrani. “Aku pikir Kawah Candradimuka ini Lumpur Lapindo” lalu byuurrr…. Wisanggeni dia lempar.

— —
“Ada yang nggateli minta komersial break.. mau bikin kopi.. ok silakan…”
Komersial Break:
“Awas! pejabat dapat menyebabkan gangguan kehamilan dan bahaya pada janin, karena rakyat (kaum ibu) dimiskinkan.”
“Awas! pejabat juga bisa sebabkan impotensi, kalau ibu-ibu manyun melulu gara-gara suami dimiskinkan pejabat, gimana bisa ngaceng..”
— —

Wisanggeni yang dicemplungkan Kawah Candradimuka bukan mati malah hidup dan semakin sakti. Kemampuannya bicara juga ciamik. Wisanggeni malah bisa merujukkan Dersanala dan Arjuna via perdebatannya dengan Raja Dewata Batara Guru. Gila, Batara Guru dipecundanginya!

Wisanggeni: “Hai Batara Guru! Jancuk kamu! Aku gak keberatan kuontolmu nggak fokus, kesana kesini, itu hak kamu… seks tak kotor itu anugrah! Cinta adalah anugrah! Datang dan perginya tak bisa diduga.. Percata pada Sang Hyang Wenang, berarti percaya pada kegaiban, termasuk cinta.”

Batara Guru tertunduk. Wisanggeni: “Tapi janganlah cintamu membelokkan tugas dan tanggungjawab sosialmu. Kenapa Batari Durga bisa nyetir kamu?”
Wisanggeni: “Heh, Batara Tanpa Tanda Jasa! haha..dengerin, Cuk. Mustahil kamu tak tahu bahwa Dersanala dan Arjuna sudah digariskan jejodohan! Tapi muemek Batari Durga telah membutakan kebijakanmu selaku pemimpin Dewa. Kembalikan Baliku pada, eh, kembalikan ortuku tunggal.”

Setelah Arjuna-Dersanala kembali serumah, Wisanggeni tinggal di kahyangan eyangnya Dewa Api Batara Brama, yaitu Kahyangan Duksinageni. Tapi saya lebih sreg pakai versi yang lain, yaitu Wisanggeni kumpul jadi satu sama Tuhan di Sonya Ruri… “Ah, bagus juga buat nama bayi, siapa minat?”

Wisanggeni hanya turun ke Maia Pada kalau dia merasa perlu turun… biasanya ketika masyarakat bentrok dengan pemimpin-pemimpin munafik, dia muncul. Misalnya, Wisanggeni turun ketika dalam lakon Kresna Gugah, Pandawa minta pada Kresna yang disusupi “Roh” Tuhan agar Pandawa selamat. Dia protes.

Pemuda cawetan Wisanggeni: “Kalian Pandawa semua gak mikir generasi muda, yang dipikirin keselamatan diri sendiri, Pandawa. Anak-anak kalian?”

Wisanggeni benar, kelak dalam Baratayuda generasi muda Pandawa mampus semua, Gatutkaca dipanah Karna, Abimanyu dirubung panah kayak landak.

Pernikahannya dengan Dewi Mustikawati tak membuat Wisanggeni jadi santun dan sok dewasa, ia tetap bicara urakan apa adanya.

Gak asyik ngelukis Wisanggeni dalam dunia wayang.. Asyik kalau membayangkan dia hidup di abad ini membela Bonek. Apa kira-kira ucapannya?
“Adakah Jancukers yang mau bantu aku ngisi kata-kata Wisanggeni kalau dia harus ngebela Bonek, kalau asyik aku retweet.”

“Udah dua orang masukin dialog pembelaan Wisanggeni pada Bonek.. tapi aku kurang sreg! aku tunggu yang lain..”
“Udah tujuh orang masukin omongan Wisanggeni membela Bonek…hhmm.. beberapa bagus, tapi aku belum sreg!”

Usulanku ini, kalau kurang tambahi sendiri Wisanggeni: “Jiancuk kalo Bonek salah kalian hukum, kalo orang-orang kasus Century?”
Wisanggeni: “Bonek kalian skors gak boleh nonton Persebaya di kandang orang, tapi jancuk apa kabar orang-orang bersalah dalam kasus Century?” Kalau kalian mau hukum Bonek, hukum juga gurunya Bonek yaitu Bung Tomo.. Dialah biangnya orang bondo atau modal nekad!!”

Dan lain-lain banyak hal dikatakan oleh Wisanggeni sampai akhirnya dipanggil oleh Sang Hyang Wenang.

Di Sonya Ruri ketika itu, Sang Hyang Wenang bertanya, “Kau tak ada lawan di dunia. Kalau kau hidup, Baratayudha tak akan berlangsung. Sebab kalau kau masih hidup, Wisanggeni, tak ada pihak Kurawa dan sekutunya yang sanggup melawanmu..”

Wisanggeni tanggap isyarat Sang Hyang Wenang. Pemuda sakti bercawat ini memandang titik antara mata di pangkal hidungnya sendiri.. Makin lama makin lama Wisanggeni mengecil hingga hingga tinggal sebutir merica dan lalu lenyap..

END… nite..