Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 128 Pak Sakera di Negeri Autopilot

7,015 Views

Episode128Mau melihat penangkaran penyu? Datanglah ke Ujung Genteng. Setiap sore selain pemandangan matahari terbenam yang indah, ada ratusan tukik alias penyu bayi dilepas ke lautan.

Khusus sore kemarin ada juga dua lelaki yang berebut naik ojek di pantai dekat Sukabumi itu, kota asal si Tenda Biru Deasy Ratnasari. Maklum, ojek yang belum narik wisatawan tinggal satu-satunya.

“Nama saya Hasti. Saya raja Hastinapura. Saya berhak naik duluan.”

“Lho? Saya juga raja Hastinapura meskipun nama saya Abiyasa….Hmmm…”

Ponokawan Gareng, si tukang ojek, menyilakan kedua raja itu naik barengan. “Monggo. Ndak usah was sumelang. Ini daerah terpencil. Jarang polisi. Saya juga sudah lama nggak pakai ekstasi. Setiran saya ditanggung aman. Seandainya ada polisi, pasti beres…bilang saja sampeyan-sampeyan ini raja…”

“Lho, yang raja itu saya,” Prabu Hasti naik pitam.

“Enak saja. Yang jelas-jelas raja itu saya,” Prabu Abiyasa tak kalah meradang.

Dengan nada tinggi Abiyasa memberi tahu Gareng bahwa dulu orangtuanya pasangan Resi Palasara dan Dewi Lara Amis alias Sayojanagandi. Sewaktu karonsih berpacaran mereka tidak naik kapal pesiar Italia yang karam itu: Costa Condordia. Mereka naik perahu. Pas di dalam perahu kecil itu mereka muter lagu Celine Dion Titanic (My Heart Will Go On)….Eh, kecelakan benar-benar terjadi persis dalam syair lagu. Perahu terbalik menjadi pulau. Nusa ini lantas mereka namai Hastinapura.

***

Ketegangan makin memuncak antara Prabu Hasti yang perawakannya sebesar Pak SBY dan Prabu Abiyasa yang senyumnya mirip Mas Anas Urbaningrum. Turis-turis peselancar ombak di pantai itu mulai berkerumun menyaksikan kedua raja yang sama-sama ngotot. Seorang turis Belanda terkesan lebih memihak Prabu Hasti. Dia yakin betul Prabu Hasti-lah raja sah Hastinapura.

Bumi gonjang-ganjing…

Tiba-tiba menyeruak dari kerumunan itu Pak Sakera dengan cluritnya. Ia tidak terima pada bule Belanda. Seolah timbul lagi dendam lamanya terhadap Belanda sewaktu dulu jagoan Madura ini menjadi mandor perkebunan tebu di Pasuruan. Pak Sakera yang kini menjadi petugas keamanan di situ segera mencengkeram krah baju si Belanda.

Orang-orang pada ketakutan di tengah debur suara ombak. Lalu hening.

“Kalau harus membacok maneh, aing mah bade mbacok maneh!!!” Pak Sakera lantang memecah keheningan. Bahasanya campur-campur Sunda berlogat Madura. “Aing ndak takut dikerangkeng. Dulu sebelum kemerdekaan aing sudah pernah dipenjara di Kalisosok Surabaya. Sebelum Bung Tomo mendelik-mendelik melawan orang asing, aing sudah duluan angkat clurit Si Lerok ini ke orang-orang asing sapertos maneh.”

Melihat gelagat darah akan tumpah di selatan Jawa Barat Gareng segera berlari menjemput Marlina S Goeltom. Istri Pak Sakera yang kini membuka warung makan di pantai itu pun segera terbirit-birit ke tempat suaminya jadi tontonan. Hanya dengan menunduk dan airmata, tanpa kata-kata, perempuan ayu ini sudah cukup meluruhkan hati Pak Sakera. Ia meminta maaf dan pulang. Kerumunan pun bubar.

“Apa beda Pak Sakera dengan pejabat-pejabat sekarang yang takut istri?”

“Hush!!!” sergah ibu-ibu kepada anaknya yang masih SD.

Tapi si bocah terus berandai-andai: Coba kalau para istri itu menyuruh suaminya membangun jembatan di Lebak, agar rekan-rekan SD-nya tidak harus berjuang menyeberang sungai setiap pulang pergi sekolah…

***

Esoknya pas matahari terbit ponokawan Gareng mengajak adik-adiknya bertandang ke rumah Pak Sakera. Dari teras depan mereka ngobrol sambil memandangi langit di timur. O ya, Ujung Genteng memang agak berbeda dibanding tempat wisata lain. Biasanya kawasan yang sunsetnya bagus, sunrisenya kurang bagus. Nah, Ujung Genteng selain matahari terbenamnya elok bang-bang wetannya juga asyik. Apalagi dipandang dari rumah Pak Sakera di dekat pelelangan ikan ke arah Amanda Ratu. Wuih!

Dalam aura keindahan itu Petruk menjelaskan, sebetulnya bule yang hampir dibacok Pak Sakera kemarin bukan orang Belanda. “Dia itu orang Inggris lho, musuhnya arek-arek Suroboyo dan Bung Tomo,” Petruk sambil nyeruput kopi bikinan Marlina.

Pak Sakera terbahak-bahak. Kumis tebalnya tampak makin melebar. “Bagi aing pokoknya hidung mancung, kulit putih…Ya orang Belanda…aing bacok, Dik,” katanya dalam logat Madura.

Bagong menimpal, “Tapi Pak Sakera harus paham. Inggris itu lama menjajah India. Makanya dia yakin raja Hastinapura itu Prabu Hasti. Ini sesuai protap Mahabarata asli India. Hasti berarti gajah. Makanya negeri Hastinapura sering disebut negeri Gajahoya.”

Pak Sakera tampak bingung sambil memilin-milin kumisnya.

“Begini maksud kami,” Gareng berusaha mengusir rasa bimbang Pak Sakera. “Wajar kalau Prabu Hasti merasa dirinya presiden. Tidak salah. Ndak perlu dibacok. Tapi sah pula kalau Prabu Abiyasa merasa wooh dialah Presiden Hastinapura. Ini sesuai kitab pedalangan Jawa, Pustaka Raja Purwa…”

Pak Sakera masih tampak limbung. Bersama sunrise dan kesabaran Gareng kembali menjelaskan bahwa dulunya nenek moyang kita sangat bijak. Mereka tak pernah menelan bulan-bulat segala sesuatu dari asing. Seluruh yang masuk dari manca termasuk Mahabarata diolah kembali, di-Nusantarata-kan melalui kitab Pustaka Raja Purwa.

“Istrimu sendiri si Marlina itu kan berwajah indo, tapi kelakuannya kan sudah sangat Madura, sekarang malah campur-campur Sunda, makanya kamu tetap mencintainya,” Gareng memberi contoh.

“Jadi sebetulnya siapa raja negara ini? Prabu Hasti apa Prabu Abiyasa? Apa saya harus nunggu jawabannya sampai tukik bertelur?” Pak Sakera tak mampu membendung kegalauannya. Untuk menjadi penyu dewasa dan bertelur, tukik memerlukan waktu 30 tahunan.

Kata Bagong, “Pertanyaan itu akan terjawab kelak kalau kumis Iis Dahlia sudah setebal kumis Pak Sakera.”

“Minimal sampai sekumis Mas Andi Mallarangeng,” Petruk nyeletuk.