Wayang Durangpo Tahun III (2011 - 2012)

Episode 129 Angelina Urangrayung si Janda Kembang

2,811 Views

Episode129Angelina Urangrayung nama orangnya. Belum genap semingguan ia menjanda. Masih ayu. Alisnya asli. Ia pun masih tersenyum kepada sesiapa yang mesam-mesem berpapasan. Warung pecel Blitar dekat mulut gang hampir saja kunduran truk gara-gara pak sopir nggak fokus saat senyumnya dibales oleh si Angie. Untung Yu Linanis si mbok warung cepat mbengok, “Hooop…Hooop…Matamu!”

“Siapa sih perempuan itu?” teriak Yu Lianis sambil mengambilkan empal dan dadar jagung buat ponokawan Bagong, pelanggannya.

Bagong melongo. Ia tak mendengar Yu Lianis. Matanya masih memelototi Angelina Urangrayung yang melenggang semakin jauh …kain panjangnya…kebayanya …rambutnya…. duuuh

“Lho, itu kan Dewi Urangrayung to mbaaak…mbak…mosondak tahu..” kata Bu Rosa yang mampir nempil pergedel. Bu Rosa dari gang buntu di sebelah. Nama asli perempuan berlesung pipi ini Wakiyem. Tapi suaminya sering memanggilnya “Rosa” seperti kerap diucapkan almarhum Mbah Maridjan. Sejak itu para tetangganya memanggil Rosa. Lalu meratalah sapaan ini ke seluruh kampung.

Walau kesusu-susu lantaran sudah ditunggu suami di rumah, Rosa masih sempat menjelaskan bahwa Dewi Urangrayung seorang janda Prabu Rahwana di negeri Alengka. Mereka pisahan setelah Urangrayung memberinya anak bernama Pratalamariyam.

“Pratalamariyam?” Yu Lianis mengernyit.

Ndak kenal, ya? Itu nama aliasnya Bukbis…”

“Bukbis? Wah, hehe, saya itu nggak ngerti wayang, Jeng Rosa. Saya tahunya cuma Brotoseno…”

“Ya nggak papa nggak ngerti wayang. Tahu Brotoseno saja sudah bagus…Nama aliasnya Bima kan? Sekarang jadi merk obat kuat. Ksatria dari Jodipati. Dia kan suaminya Dewi Arimbi…”

“Hah? Suami orang, Jeng? Katanya Brotoseno itu duda …pekerjaannya di bidang …apa itu … penegakan hukum…Ssssstttt….kabarnya dia tuh dekat sekali dengan Angelina…”

Rosa cekikikan begitu menyadari bahwa Brotoseno yang dimaksudnya berbeda dengan Brotoseno dalam bayangan Yu Lianis. Ingin Rosa mencerahan Yu Lianis, apa daya waktunya mepet. Nazar, suaminya, sudah menanti-nati di rumah dengan nasih hangat tanpa lauk.

Yu Lianis bertanya sembari mengambilkan lagi empal dan dadar jagung buat Bagong, “Kenapa ya perempuan itu cekikikan?”

Sekali lagi Bagong tak mendengar. Matanya melongo. Ia terawang Rosa yang semakin jauh berjalan kemayu ke arah gang buntu….Kain panjangnya…Kebayanya…Rambutnya…hmmmm….

***

Sambil meninggalkan warung bersama angin, Rosa membenarkan Angelina Urangrayung meninggalkan Rahwana. Waktu itu Raja Alengka ini juga sudah berputera Indrajid dari istri Dewi Tari. Urangrayung ingin bukan Indrajid yang kelak mengetuai partai. Anaknya, Bukbis yang akrab pula dipanggil Topeng Waja, bagi perempuan udik ini lebih sip.

“Saya memang perempuan dusun. Bukan seperti Dewi Tari yang dari kahyangan,” renung Dewi Urangrayung. “Tapi kan saya sudah lama di kota. Aku bukan wong ndeso. Saya sudah melakukan urbanisasi. Catat itu! Aku ini orang urban dalam urbanisasi. Saya sudah usul ke bapaknya, agar Bukbis dikasih nama belakang. Jadi Bukbis Urbanisasi. Biar seluruh rakyat Alengka nanti tahu bahwa kami yang orang kampung ini sudah lama hidup di Metropolitan Alengka…”

Ah, sebetulnya tidak pedalaman sekali. Renungan Dewi Urangrayung itu terlalu direndah-rendahkan. Di pelosok, sejatinya ayah Urangrayung bukan orang sembarangan. Masih trah kiyai. Namanya Begawan Minalodra dari pesantren Kandabumi. Saking berkarismanya sampai Dewa Baruna sang penguasa laut pun segan kepadanya.

***

Kawasan yang mirip suasana kampung-kampung lama di Surabaya seperti Praban dan Maspati di seputar Mblauran. Di kampung itu Yu Lianis duduk-duduk di warung pecel Blitar cuma berteman ponokawan Petruk dan Gareng. Obrolan mereka menyangkut lenyapnya Angelina Urangrayung sejak dua hari lalu muncul pengamen tandak bedes alias komedi monyet.

“Memang hubungannya apa dengan ketek ogleng? Perempuan itu minggat yo ben…” ketus Yu Lianis.

“Yu Lianis cemburu ya karena Angelina cantik?” goda Petruk.

“Ih, sori ya. Sori. Ini cuma bukti…setelah perempuan itu pergi keadaan aman-aman saja tuh. Biasanya ada saja yang diseruduk truk karena sopirnya jelalatan ke perempuan itu…Eh, tapi hubungannya sama ketek ogleng apa?”

Gareng berpikir. “Kamu lihat nggak, Yu, pemain tandak bedes yang pakai kostum Hanuman?”

Gareng menjelaskan, yang pakai kostum serbaputih Hanuman itu namanya Pak Andi Senggono. Dia bilang bahwa bersama rombongan tandak bedes baru saja bertemu Ketua Dewa Kehormatan Partai Kahyangan di Jonggringsaloka. Yaitu, Batara Guru. Di kahyangan itu dia diakui sebagai anak oleh Batara Guru. Bahkan Pak Guru memberinya nama Senggono dengan wanti-wanti, sepulang dari Jonggringsaloka mampir mintalah restu ke Sang Hyang Baruna yang menguasai laut. Hargailah laut. Cintailah laut. Sesungguhnya Nusantara adalah Negeri Maritim.

“Terus? Terus?” Yu Lianis penasaran.

“Ya ndak ada terusnya, wong pengamen itu terus pergi,” ujar Gareng. Tapi seingat Gareng, kalau menurut cerita pewayangan, setelah Pak Andi Senggono mampir ke Mbah Baruna, di sana Pak Andi bertemu Angelina Urangrayung dan langsung jatuh cinta. Pak Andi lalu menikahi janda Rahwana ini. Mereka beranak. Kera putih wujudnya. Namanya Trigangga.

“Terus? Terus?” Yu Lianis makin penasaran, tapi Gareng dan Petruk segera pamit karena sudah dipanggil Arjuna, bosnya.

“Terusannya…begini…,” ujar lelaki yang baru datang nimbrung di penghujung cerita Gareng. “…Nantinya Bukbis dan Trigangga akan berperang seru, seperti peperangan yang bakal terjadi di tubuh partai setelah muncul tersangka-tersangka baru kasus korupsi.”

Ah, Yu Lianis tak mau percaya. Ia masih kesal. Maklum, penutur lanjutan kisah Gareng itu sopir truk yang pernah hampir saja menabrak warungnya. Herannya, di lain pihak, Yu Lianis diam-diam ingin mempercayainya juga.

Oh, kehidupan..