Wayang Durangpo Tahun II (2010 - 2011)

Episode 99 Seandainya Saya bukan Presiden

5,200 Views

Episode099Pamongpraja mengumumkan susu-susu bayi bebas dari bakteri sakazaki. Pabrik-pabrik susu pun syukuran. Salah satunya ya pabrik yang di belahan utara itu. Mereka bikin rame-rame. Antara lain dipentaskan karate dan silat. Seru. Ryo Sakazaki tokoh karate dari Jepang misalnya dikalahkan oleh silat Sarip Tambak Oso dari Sidoarjo. Ryo Sakazaki, atau lebih kondang disebut Sakazaki Ryo, keok di sudut. Matahari seakan turut prihatin.

“Lho, Sakazaki bukannya nama bakteri yang katanya manjing di susu-susu buat bayi?” tanya ponokawan Petruk kepada Gareng.

“Ndak selalu, Truk. Udin kan juga ndak mesti bendahara. Udin yang hakim ada. Udin yang tukang ojek yo onok, Rek. Hare gene nggak kenal dunia, apa kata Udin?”
“Tapi Sakazaki Ryo itu kan tokoh khayalan?” Petruk menyanggah. “Masa’ jagoan khayalan tanding lawan jawara nyata…”

“Lho? Apa Sarip Tambak Oso juga bukan khayalan…wong aku tahunya cuma nduk ludruk-ludruk. Nama jalan juga ndak ada yang Sarip Tambak Oso. Yang banyak tuh Pak Dirman.” Bagong ngotot membela Gareng.     Petruk mikir-mikir. “Hmmm…Tapi ini kan syukuran. Matur nuwun kita sudah bebas bakteri sakazaki. Syukuran kok pabrik itu nyuguhkan pentas perkelahian Ryo Sakazaki? Kalau cuma ngejar dekat-dekatan nama…Zakiya juga dekat dengan sakazaki. Itu lho lagu dangdutnya Ahmad Albar…Zakiya Zakiyaaaaa…. Kenapa nggak Ahmad Albar nyanyi saja…Bukan gedebak-gedebuk kelahi gini…Syukuran kok tukaran…”

Gareng, seperti biasa, sok berpikir keras. “Mungkin karena sekarang sedang musimnya saling tuding. Lha kalau cuma saling tunjuk saja apa menariknya dipentaskan. Mangkane pabrik susu nduk kawasan selatan itu akhirnya sekalian memanggungkan unjuk pukul, unjuk tendang dan lain-lain di acara syukuran.”

Tapi masukan dari Petruk akhirnya nyampe juga ke kuping manajemen pabrik. Syukuran yang berlangsung tujuh hari tujuh malam itu direvisi. Akhirnya ada juga program yang bukan gontok-gontokan. Mereka mengadakan lomba menulis cerpen dengan tema, “Seandainya Saya bukan Presiden..”
Keciput dimakan Nazar
Berikut cerpen yang nyasar…

***

Seandainya saya bukan presiden, maka saya adalah Dewi Sudesna. Sayalah permaisuri Kerajaan Wiratha. Saya mempunyai adik yang tak mirip KSAD Letnan Jenderal Pramono Edhie Wibowo. Tapi adik saya juga lelaki gagah. Dia seorang perwira. Namanya Kicaka. Bagus kan? Prabu Matsyapati, suamiku, telah melantiknya sebagai agul-agul atau pemimpin tentara.

Tapi orang-orang itu lho..riiiiiiiiiibut ketika sebagai Ibu Negara saya memeluk dan mencium Kicaka. Itu pas upacara pelantikan adik saya sebagai panglima. Lho, adik-adikku dewe kok. Katanya sebagai Ibu Negara aku kurang mengerti ajaran….apa itu…Yang diucapkan Kresna ke Arjuna itu lho…hmmmm… O ya Bhagawad Gita….tentang empan papan atau menyesuaikan sikon. Kata mereka, pada saat pelantikan itu yang ada bukanlah Dewi Sudesa dan adiknya, Kicaka. Yang ada adalah Ibu Negara dan Panglima Tentara Kerajaan.

Duuuuh duh duh…Aaaah, embuh wis…Rakyat itu bisanya memang cuma pating pecotot. Ngomong memang gampang. Suruh milaaaah.. mana sebagai Ibu Negara mana sebagai kakak. Halaaah halah. Coba rasakan sendiri kalau mereka jadi saya, perempuan yang tahu bagaimana dulu Kicaka semasa kecil saya yang ngopeni, memandikan, saya yang nyuapi…Hayoooo. Lalu lihatlah anak yang dulu mokong dan lucu itu sekarang tegap berdiri di hari pelantikan di istana menjadi panglima yang gagah…Masa’ saya nggak boleh meluk…? Moso’ aku gak oleh ngambung…?
Aaaah…Mikiri cangkeme rakyat lebih mumet ketimbang macet di antara Pasuruan-Probolinggo, Ngopak dan Grati…

Tapi Gusti Allah ora sare…Tuhan tidak tidur. Untung di negeri Wiratha ini tidak ada warga seperti George Junus Adicondro. Tahu kan? Itu lho orang gondrong yang baru nerbitkan buku Cikeas Makin Menggurita. Pasti saya tambah pusing kalau di negeri ini ada warga yang dulu pernah bikin geger dengan bukunya Gurita Cikeas itu.

Hmmmm…iya sih.

Tak ada tudingan bahwa kami sekeluarga makin menggurita, tapi ta’ bilangi ya…saya itu puuuuusing oleh karena ajudan saya yang bernama Sairandri. Orangnya manis. Perawakannya lencir. Nah saya sudah hafal adik saya. Adik saya yang sekarang jadi panglima tentara, Kicaka, sejak kecil itu “thukmis”. Gampang kegiwang oleh permpuan yang ber-bathuk klimis.

Makanya, sebagai Ibu Negara, mbok kiro saya cuma mengurus negara? Wow…dibanding mengurus negara saya lebih banyak menerima pengaduan ajudan saya, ya Sariandri itu. Katanya dia sering diemek-emek sama Kicaka. Kadang Kicaka menjawil dagu Sariandri. Membelai-belai rambut Sariandri yang ikal mayang itu juga kerap dilakukan oleh Kicaka, baik sedang dalam keadaan berpakaian seragam militer apalagi ketika ndak pakai uniform tentara. Byuuuuuh…byuuuh….Tambah ndadi…
***
Itulah salah satu cerita pendek, alias cerpen, yang nyasar ke dewan juri pimpinan Bagong dengan anggota Petruk dan Gareng. Ketiganya kelihatan tertarik. Mereka sepakat memasukkan itu dalam 10 besar cerpen finalis di antara cerpen-cerpen lain seperti “Red Notice itu Masa Datang Bulan”, “Antara BBM Bersubsidi dan BBM Gelap”, “Iklan Partai Katakan Iya Kepada Tidaaaaak….” dan lain-lain.

Surat undangan mulai dikirimkan kepada para penulis cerpen. Tetapi ternyata ada yang memalsu surat. Sebagai contoh, surat undangan untuk pembuat cerpen “Seandainya Saya bukan Presiden” ternyata jatuh ke tangan Andi Nurbuat. Nama dan alamat di sampul surat, berbeda dengan di dalam surat yaitu Nunun Nur Udin, penulis cerpen “Seandainya Saya bukan Presiden…”
Merasa tak pernah menulis cerpen apapun, Andi Nurbuat berencana mengembalikan surat undangan tersebut. “Kasihan pada yang berhak,” alasannya kepada ponokawan Mbilung.

Keduanya bertemu dalam kemacetan lalu lintas di Surabaya antara Lidah Kulon sampai TL Unesa.
Di situlah Mbilung punya pikiran makin mengerucut. Sebelum mengenal Andi Nurbuat, ponokawan pendamping Togog ini sudah melihat wajah lelaki itu tegang dalam kemacetan menjelang masuk Surabaya. Tepatnya antara Jembatan Timbang Troboso ke Krian. “Ini pasti orang yang sangat jujur tapi sebenarnya sedang susah duit,” batin Mbilung. Maka selewat Lidah Kulon, ketika lelaki itu memperkenalkan diri dan menceritakan tujuan perjalanannya, Mbilung sudah siap dengan jawaban.

“Hmmm…Begini Pak Andi… Kalau surat undangan panitia cerpen ini Pak Andi kembalikan,” ujar Mbilung perlahan. Ia sambil berpikir keras, “Panitia tidak akan mengganti ongkos perjalanan Bapak. Lagian, orang yang namanya tercantum sebagai penulis cerpen belum tentu bener-bener penulis cerpen. Sekarang banyak barang jiplakan. Skripsi saja banyak yang contekan kok…”
Siang itu Surabaya jauh lebih panas ketimbang Surabaya dalam lagu Bis Kota-nya Franky Sahilatua…

“Apalagi ini hadiahnya 6,7 Trilyun Rupiah….” Mbilung memecah keheningan percakapan di angkutan kota.

Wah? Senilai skandal Century? Lelaki kurus kecil bernama Andi Nurbuat itu tampak mulai terpengaruh. Mbilung menawarkan jalan-jalan dulu sebelum langsung ke panitia. Diajaknya Andi Nurbuat pindah kendaraan umum yang masuk Tol Porong-Perak. Di atas jembatan Suramadu, di antara angin dan awan-awan, Mbilung menganjurkan Andi Nurbuat datang ke panitia, mengaku bernama Nunun Nur Udin, penulis cerpen.

***

Jaringan Mbilung yang luas membuat Andi Nurbuat tak kesulitan dengan masalah identitas. KTP bernama Nunun Nur Udin sampai akte kelahirannya lengkap ada, dan persis dengan data-data yang masuk ke administrasi panitia.

Ya. Semua beres, tapi yang membuat Andi Nurbuat hampir pingsan ketika panitia memintanya menceritakan kembali cerpen yang telah ditulisnya. Matek! “Coba Bu Nunun Nur Udin, ceritakan kembali cerpen Anda,” kata ketua dewan juri, Bagong.

Seluas-luasnya jaringan mafia Mbilung, ponokawan ini khilaf. Ia lupa mencuri cerpen dari arsip panitia untuk dibaca lebih dulu oleh Andi Nurbuat. Padahal cerpen itu pasti gampang diingat oleh Andi Nurbuat. Maklum lelaki ini suka lakon Wiratha Parwa. Inilah riwayat tentang Pandawa yang bersembunyi sebelum perang Baratayuda melawan Kurawa. Drupadi, istri para Pandawa menyamar sebagai ajudan Dewi Sudesna. Nama samarannya Sairandri. Dalam episoden itu Kicaka akhirnya dihajar oleh Jagal Abilawa, samaran Bima, tokoh yang dikagumi oleh Jenderal Sarwo Edhie Wibowo.

“Seandainya Saya bukan Presiden…..” kata Andi Nurbuat, stop cuma sampai judul cerpen itu…di depan dewan juri alias hakim-hakim cerita pendek di Indonesia.

*Sujiwo Tejo tinggal di www.sujiwotejo.com / twitter @sudjiwotedjo