Tempo

Pengakuan Rahwana

5,004 Views

rahtempo1Pentas Drama Musikal Sujiwo Tejo

TEMPO Interaktif, Jakarta: Inilah tafsir mengejutkan tentang Rahwana dan Sinta yang diungkap secara gamblang. Bahwa Dewi Sinta adalah buah hati Rahwana yang dibuang ke Sungai Gangga. Bahwa sebenarnya Rahwana tak pernah menyakiti Sinta, bahkan Sintalah yang akhirnya jatuh cinta kepada sang raksasa.

Tafsir ini diungkapkan Sujiwo Tejo dalam drama musikal kontemporer berjudul Pengakuan Rahwana di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu lalu. Dalam pertunjukan itu, Sujiwo hendak melirik segala kemungkinan yang bisa terjadi dalam sejarah pewayangan Ramayana ini.

Ia mengedepankan teori Sigmund Freud bahwa anak perempuan bisa jatuh cinta dengan bapaknya sendiri atau anak laki-laki bisa kasmaran dengan ibunya sendiri. Seperti cerita Sangkuriang, Rahwana dan Sinta pun tak berbeda.

Dikemas dengan ide segar, cerita legendaris ini dibawakan dalam model sandiwara radio. “Inilah radio Komunitas Utan 01,” ujarnya sebagai penyiar. Saluran yang khusus memutar tembang-tembang Jawa dibuka dengan acara berkirim pesan dan meminta lagu.

“Ini ada surat dari Bu Parjo, katanya jangan lupa latihan voli di lapangan belakang, request-nya lagu Rinduku,” ujar Sujiwo dengan head set di kepalanya. Lagu yang diminta pun langsung didendangkan oleh tiga sinden yang duduk ayu di tengah panggung. Sinden Yanti dari Jakarta, Sruti Respati dari Solo, dan pesinden belia bernama Kenya yang tak lain putri Sujiwo sendiri.

Untuk meyakinkan penonton bahwa acara itu memang ada pendengarnya, muncul tiga pemain dengan radio kayu. Mereka mendengar radio sambil menyapu, duduk-duduk, atau nongkrong di kakus. Beberapa permintaan lagu dari pendengar dilayani dengan baik.

Salah seorang pendengar, yakni Ibu Naenggolan, malah minta dilakonkan carita tentang Rahwana dan Dewi Sukhesi. Setelah tembang Gandrung yang diawali dengan Simfoni Sembilan dari Bethoven, cerita pun bergulir.

Resi Wisrawa punya seorang anak bernama Ganaraja yang jatuh cinta dengan Dewi Sukhesi. Sang anak ingin ayahnya meminang Dewi untuknya. Lewat pertarungan seribu prajurit, Resi memenangi sayembara. Namun, Sukhesi ingkar janji, ia ingin menikah dengan pria yang bisa membuka tabir rahasia semesta. Dua tokoh lakon wayang kulit keluar dan sekejap meja penyiar pun jadi arena Sujiwo mendalang.

Rencana buka-bukaan pun diketahui para dewa. Dewa-dewi asmara, Kamajaya dan Kamaratih, hendak menggagalkan niat Resi. Menjelmalah dua dewa itu di tubuh Resi dan Sukhesi. Mereka dibuai asmara. Persetubuhan terjadi. Lahirlah jabang bayi Rahwana yang berkepala sepuluh.

Rahwana yang malu dengan kondisinya mengasingkan diri dengan bertapa 50 ribu tahun lamanya. Tiap lima ribu tahun, ia memenggal kepalanya satu per satu. Rahwana pun putus asa, ia ingin mengakhiri hidupnya. Tapi dewa melarang. “Bagian ini juga nalar dari saya,” ujar Sujiwo. Menurut dia, Rahwana harus tetap hidup agar semesta kentara antara yang gelap dan terang, yang baik dengan yang jahat.

Cerita yang diusung Sujiwo memang klasik. Namun, kemasan sandiwara radio membuatnya jadi lebih segar.

AGUSLIA HIDAYAH

Disadur sepenuhnya dari Koran Tempo, Kamis, 11 Desember 2008. http://www.tempointeraktif.com/share/?act=TmV3cw==&type=UHJpbnQ=&media=bmV3cw==&y=JEdMT0JBTFNbeV0=&m=JEdMT0JBTFNbbV0=&d=JEdMT0JBTFNbZF0=&id=MTUwNDg4

antara1JAKARTA, 7/12 – PENGAKUAN RAHWANA. Seniman Sujiwo Tejo beraksi dalam drama musikal kontemporer dengan lakon “Pengakuan Rahwana” di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (6/12). Sujiwo Tejo juga menyutradarai sekaligus menulis naskah lakon yang mengajak pemirsa mengenal lebih dekat sisi Rahwana yang selalu hadir dalam kehidupan. FOTO ANTARA/Fanny Octavianus/mes/08.
http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1228630889/pengakuan-rahwana-sujiwo-tejo