Blog

Surat Terbuka untuk Yenny Wahid

8,710 Views

ST4DC2Terima kasih akhirnya jadi main juga dalam Drama Wayang Kontemporer Semar Mesem, 17 November kemarin di Gedung Kesenian Jakarta. Maaf saya tidak berani menyebut nama sampeyan dalam rangkaian tulisan Semar Mesem 1-6 di web ini. Karena saya ragu apa sampeyan bener-bener bisa main, seperti kesediaan sampeyan via handphone, yang sampeyan tekankan lagi ketika datang pada pembukaan pameran lukisan saya Semar Mesem di Balai Kartini, Jakarta, 1 November lalu.

Meski tak melihat langsung, kira-kira saya sudah bisa menebak sedang dan bakal kayak apa kesibukan politik di Tanah Air, terutama menyongsong pemilihan presiden entah kapan. Mbak Yenny pasti terseret kesibukan itu. Mbak Yenny pasti berada di antara tarik-menarik kepentingan berbagai pihak. Ditarik dan diulur atas berbagai alasan, ya alasan bakat dan kemampuan sampeyan sendiri, ya alasan fakta yang tak bisa disangkal bahwa sampeyan putri mantan presiden, ya alasan bahwa sampeyan perempuan. Saya tahu, perempuan di milenium ini telah menjadi faktor dominan pergerakan bumi.

Saya nggak enak mengontak sampeyan dalam konteks dugaan kesibukan macam itu. Maka ketika Mas Pramono Anung dan Heppi Salma sudah memasuki tahap latihan Semar Mesem, saya sungkan untuk ngontak sampeyan. Maka sangat mengharukan ketika di siang saat latian itu, ketika saya sedang latihan musik ama penata musik Bintang Indrianto dan Nanang HP, penata artistik Sugeng Yeah ngasih kode ke saya ada seseorang sedang berdiri menunggu di samping. Spontan siang itu saya menengok ke samping. Siluet seorang perempuan mengenakan kaus dan celana serta berkerudung: Sampeyan, Yenni Wahid, seorang sekjen partai besar yang kabarnya juga penasihat presiden, seseorang yang saya hormat dan kagumi terutama ketika saya saksikan sampeyan sedang pidato di depan ribuan massa.

Akhirnya Semar Mesem bisa membantu saya mendapatkan sampeyan pada 17 November lalu. Senang juga melihat sampeyan ndak buka kamar di hotel-hotel mewah sekitar Gedung Kesenian Jakarta, tapi mau makan seadanya dan istirahat bareng dan baur dengan seluruh pemain dan awak panggung. Sekali lagi terima kasih.

Terima kasih kepada temen-temen dari Ludruk ITB, atas seluruh jerih payahnya yang tanpa pamrih, mau melakukakn “pekerjaan-pekerjaan kasar” bersama awak panggung lain, tanpa beban diri bahwa mereka sudah kuliah S-2, S-3, tapi mau berkeringat bareng-bareng.

Juga terima kasih kepada seluruh pendukung pementasan ini. Tak lupa kepada rekan-rekan pers seperti Mas J Osdar dari Kompas, Dodi dari Jurnal Nasional, Media Indonesia, Koran Tempo, teman-teman dari media elektronik seperti La Teve, Trans TV, Trans 7, Indosiar, TPI, RCTI, SCTV, dan puluhan lain dari infotainment yang saya nggak bisa hafal untuk saya sebut di sini. O ya, ada yang tahu hpnya Dewi nggak ya? Dia wartawati dari Trans TV. Manis banget bocahnya. Ada satu info yang saya lupa ngomong ke dia. Saya penging ngomong. Please. Email saja ke bos web ini, rika@pointgraph.com

Dewi, eh, Mbak Yenny, kamsia ya?